Iran Sedang Rundingkan Perjanjian Strategis 25 Tahun dengan China

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 06 Jul 2020 12:27 WIB
Bendera Iran
Ilustrasi (REUTERS/Morteza Nikoubazl)
Teheran -

Pemerintah Iran tengah merundingkan sebuah perjanjian strategis untuk 25 tahun dengan China. Isi dan ketentuan soal perjanjian ini akan diumumkan begitu kesepakatan dicapai oleh kedua negara nantinya.

Seperti dilansir AFP, Senin (6/7/2020), informasi soal perundingan antara Iran dan China itu diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dalam sesi rapat di parlemen pada Minggu (5/7) waktu setempat. China diketahui merupakan mitra perdagangan top bagi Iran.

"Dengan keyakinan dan tekad, kita sedang merundingkan sebuah perjanjian strategis 25 tahun dengan China," kata Zarif.

Rapat di parlemen Iran itu berlangsung tegang dan sengit, dengan Zarif sempat diejek oleh beberapa anggota parlemen, terkait peran pentingnya dalam merundingkan kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan negara-negara kekuatan dunia. Tahun 2018, Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan itu dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Kehadiran Zarif dalam rapat di parlemen itu merupakan yang pertama sejak para anggota parlemen kembali mulai bekerja sejak akhir Mei lalu, setelah pemilihan yang didominasi kalangan konservatif dan ultra-konservatif.

Zarif bersikeras bahwa 'tidak ada rahasia' soal prospek perjanjian dengan China itu. Namun dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal ketentuan dalam perjanjian itu.

Disebutkan Zarif bahwa publik Iran akan diberitahu 'saat perjanjian itu mencapai kesimpulan'. Dia menambahkan bahwa niat untuk merundingkan perjanjian itu telah diungkapkan ke publik pada Januari 2016 saat Presiden China, Xi Jinping, berkunjung ke Teheran.

China juga diketahui menjadi pasar penting bagi ekspor minyak mentah Iran, yang telah sangat dibatasi oleh sanksi-sanksi AS. Kesepakatan nuklir tahun 2015 memberikan keringanan sanksi bagi Iran, sebagai balasan atas pembatasan program nuklir negara ini. Namun kalangan konservatif Iran dengan gigih menentang kesepakatan multilateral itu, dengan menyatakan AS tidak pernah bisa dipercaya.

Beberapa waktu lalu, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, secara terang-terangan mendukung kemitraan bilateral strategis dengan China. Perjanjian dengan China menjadi topik hangat di media sosial Iran sejak bulan lalu saat mantan Presiden Mahmud Ahmadinejad mengecam perundingan yang berlangsung dengan negara asing.

(nvc/ita)