International Updates

Kasus Corona di Brasil Tembus 1 Juta, WHO Sebut Dunia dalam Fase Berbahaya

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 20 Jun 2020 17:36 WIB
People walk through a downtown shopping district in Sao Paulo, Brazil, Wednesday, June 10, 2020. Retail shops reopened on Wednesday in Brazils biggest city after a two-month coronavirus pandemic shutdown that aimed to contain the spread of the new coronavirus. (AP Photo/Andre Penner)
Situasi di Sao Paulo, Brasil setelah pertokoan dibuka kembali di tengah pandemi Corona (AP Photo/Andre Penner)

- WHO: Pandemi Corona Semakin Cepat, Dunia dalam Fase Baru dan Berbahaya

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pandemi virus Corona (COVID-19) global kini ada dalam 'fase baru dan berbahaya'. WHO menyebut virus Corona menyebar semakin cepat saat orang-orang mulai lelah dengan lockdown dan pembatasan sosial.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (20/6/2020), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendorong negara-negara dan warganya untuk tetap waspada tinggi, karena jumlah kasus yang dilaporkan ke Badan Kesehatan PBB ini mencapai puncak baru.

"Pandemi semakin cepat. Lebih dari 150 ribu kasus baru COVID-19 dilaporkan ke WHO kemarin -- jumlah paling banyak dalam satu hari sejauh ini," sebut Tedros dalam konferensi pers virtual pada Jumat (19/6) waktu setempat.

"Dunia ada dalam fase baru dan berbahaya. Banyak orang dipahami sudah bosan dengan berada di dalam rumah. Negara-negara dipahami sangat bersemangat untuk membuka masyarakat dan perekonomian," ujar Tedros. "Tapi virus masih menyebar cepat, masih mematikan dan kebanyakan orang masih rentan," imbuhnya, sembari menyebut bahwa kalangan yang paling rentan akan paling menderita.

- Tewas Saat Bentrok dengan China, Beberapa Jenazah Tentara India Dimutilasi

Bentrokan antara tentara China dan tentara India di kawasan lembah Galwan menewaskan 20 tentara India. Laporan menyebut beberapa jenazah tentara India itu ada yang dimutilasi.

Seperti dilansir India Today, Sabtu (20/6/2020), beberapa jenazah tentara India, dari 20 tentara yang tewas dalam bentrokan itu, dilaporkan ada yang dimutilasi. Laporan ini belum mendapat konfirmasi resmi dari otoritas maupun militer India.

Namun pada Kamis (18/6) waktu setempat, beredar sebuah foto yang menunjukkan senjata yang dipakai dalam bentrokan tentara India dan China. Foto tersebut menampilkan tongkat pemukul yang dipasangi paku tajam dan kawat berduri di sekelilingnya.

Media Inggris, BBC, memperoleh foto itu dari seorang perwira senior militer India di perbatasan India-China, yang mengatakan senjata itu digunakan oleh tentara China. Analis pertahanan, Ajai Shukla, yang pertama kali mencuitkan gambar tersebut, menyebut penggunaan senjata itu menandakan perilaku "barbar".

- Eks Penasihat Keamanan AS Sebut Putin Tak Anggap Serius Trump, Ini Kata Rusia

Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton yang tengah memicu kehebohan dengan buku barunya, kembali memicu kontroversi dengan menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menganggap serius Presiden Donald Trump. Otoritas Rusia telah menanggapi tuduhan Bolton ini.

Seperti dilansir Associated Press dan The Independent, Sabtu (20/6/2020), tuduhan itu disampaikan Bolton dalam wawancara dengan ABC News beberapa waktu terakhir saat Bolton mempromosikan buka memoar-nya yang berjudul 'The Room Where It Happened: A White House Memoir' yang akan terbit pekan depan.

Dalam wawancara itu, Bolton membahas soal hubungan antara Trump dan Putin. Disebutkan Bolton bahwa Putin sebenarnya meyakini dirinya bisa mempermainkan dan memanipulasi Trump. Dia bahkan menyebut Putin tidak menganggap serius Trump dan mungkin menertawakan Trump.

Dalam tanggapannya, juru bicara Kremlin atau Istana Kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, menyangkal tuduhan Bolton. Ditegaskan Peskov bahwa Putin tidak menganggap Trump mudah untuk dimanipulasi.


(nvc/nvc)