Sosok John Bolton yang Dipecat Trump dan Bikin Heboh Lewat Bukunya

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 19 Jun 2020 11:30 WIB
FILE PHOTO: Former U.S. Ambassador to the United Nations John Bolton speaks at the Conservative Political Action Conference (CPAC) in Oxon Hill, Maryland, U.S. February 24, 2017. REUTERS/Joshua Roberts/File Photo
John Bolton (REUTERS/Joshua Roberts/File Photo)
Washington DC -

John Bolton, mantan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS), tengah menjadi sorotan karena membuat geram Presiden Donald Trump terkait berbagai tuduhan yang disampaikan dalam buku memoir terbarunya. Buku kontroversial karya Bolton yang tahun lalu dipecat Trump ini, disebut berisi 'informasi rahasia'.

Seperti dilansir AFP dan Reuters, Jumat (19/6/2020), Bolton (71) merupakan penasihat keamanan nasional ketiga yang ditunjuk Trump selama pemerintahannya. Mantan Duta Besar AS untuk PBB ini, ditunjuk Trump menjadi Penasihat Keamanan Nasional AS pada Maret 2018. Dia menggantikan HR McMaster yang meninggalkan jabatan itu setelah berbeda pendapat dengan Trump dalam sejumlah isu.

Penunjukan Bolton saat itu memicu kritikan dan kekhawatiran, sebabnya dia dikenal sangat keras terhadap Korea Utara (Korut) dan Iran. Reaksi negatif sempat muncul dari beberapa anggota Kongres AS yang mempertanyakan alasan Trump menempatkan Bolton di posisi kritis untuk Gedung Putih dan pemerintah AS.

Bolton yang pernah disebut Korut sebagai 'manusia sampah' ini, menjabat Duta Besar AS untuk PBB pada era Presiden George W Bush. Sebelum itu, dia menjabat Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Urusan Keamanan Internasional, juga di bawah Bush.

Dia menjadi sosok veteran dan kontroversial yang terkait langsung dengan invasi AS ke Irak tahun 2003, yang akhirnya terungkap didasari informasi intelijen palsu dan berlebihan soal keberadaan senjata pemusnah massal milik mendiang Saddam Hussein dan keterkaitannya dengan terorisme.

Bolton juga diyakini ada di belakang kebijakan-kebijakan luar negeri AS yang agresif lainnya di masa lalu. Tidak hanya itu, Bolton juga diketahui sejak lama mendukung perubahan rezim di Korut. Bahkan dia pernah menyarankan pemerintah AS untuk mengambil opsi serangan militer terhadap Korut.

Untuk isu Iran, Bolton menyebut kesepakatan nuklir yang tercapai pada era Presiden Barack Obama sebagai 'kesalahan besar' dan 'perlu untuk dicabut'. Sedangkan menyikapi Rusia, Bolton pernah menyerukan langkah penangkalan yang efektif untuk melawan perang siber yang dilakukan pemerintahan Vladimir Putin.

Pada 10 September 2019, Trump mengumumkan pemecatan Bolton via Twitter. Disebutkan Trump saat itu bahwa dirinya sangat tidak setuju dengan Bolton untuk beberapa kebijakan. Secara terpisah, Bolton menyebut Trump tidak memecat dirinya dan bersikeras menyebut dirinyalah yang berinisiatif mengundurkan diri.

Tonton video 'Di Tengah Pandemi, Trump Akan Kampanye ke 4 Negara Bagian':

Selanjutnya
Halaman
1 2