Lawan Upaya Ekstradisi AS, Bos Huawei Ajukan Argumen Baru

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 16 Jun 2020 13:40 WIB
FILE - In this  Jan. 17, 2020, file photo, Huawei chief financial officer Meng Wanzhou, who is out on bail and remains under partial house arrest after she was detained last year at the behest of American authorities, leaves her home in Vancouver, British Columbia, as she heads to B.C. Supreme Court for a case management hearing. The first stage of her extradition hearing begins Monday, Jan. 20, 2020, in a Vancouver courtroom, a case that has infuriated Beijing, set off a diplomatic furor and raised fears of a brewing tech war between China and the United States. (Jonathan Hayward/The Canadian Press via AP, File)
Meng Wanzhou (Jonathan Hayward/The Canadian Press via AP, File)
Ottawa -

Sidang ekstradisi bos Huawei, Meng Wanzhou, masih berlangsung di pengadilan Kanada. Pihak Meng memberikan argumen baru yang menyebut upaya yang diajukan Amerika Serikat (AS) terhadap Kanada 'penuh kesalahan yang disengaja dan sembrono'.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (16/6/2020), Meng (48) yang menjabat Chief Financial Officer (CFO) Huawei ini ditahan di Vancouver, Kanada sejak 1 Desember 2018, atas permintaan AS. Dia didakwa atas penipuan bank dan dituduh menyesatkan HSBC Holdings Plc soal bisnis Huawei Technologies Co Ltd di Iran.

Meng yang merupakan anak perempuan dari pendiri Huawei, Ren Zhengfei, menegaskan dirinya tidak bersalah dan berjuang melawan upaya ekstradisi AS. Penahanan Meng telah menimbulkan ketegangan hubungan China dengan AS dan Kanada.

Dalam argumennya, pengacara Meng mengklaim bahwa upaya-upaya AS 'sungguh penuh dengan kesalahan yang disengaja dan sembrono' yang melanggar hak-hak kliennya.

Dokumen presentasi PowerPoint yang diberikan Meng kepada seorang bankir HSBC di Hong Kong tahun 2013 lalu disebut menjadi bukti penting yang memberatkan Meng. Dalam presentasi itu, Meng menyebut bahwa Skycom Tech Co Ltd -- perusahaan yang beroperasi di Iran -- merupakan 'mitra bisnis Huawei'. Otoritas AS menyebut perusahaan itu sebagai anak perusahaan tidak resmi.

Pengacara Meng berargumen bahwa jaksa menghilangkan poin penting yang disampaikan Meng dalam dokumen presentasi itu soal operasi bisnis Huawei di Iran dan bahwa Skycom bekerja bersama Huawei dalam penjualan dan layanan di Iran. Tanpa poin itu, sebut pengacara Meng, ringkasan AS soal PowerPoint itu 'menyesatkan secara material'.

Selanjutnya
Halaman
1 2