Adik George Floyd Desak Kongres AS Loloskan UU Reformasi Kepolisian

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Kamis, 11 Jun 2020 01:24 WIB
LONDON, ENGLAND - JUNE 09: Protesters with personal protective equipment (PPE) are gathering in Parliament Square to commemorate the life of George Floyd at 5pm, the time when his body will be laid to rest in Houston, Texas, where he grew up, on June 09, 2020 in London, United Kingdom. The death of an African-American man, George Floyd, while in the custody of Minneapolis police has sparked protests across the United States, as well as demonstrations of solidarity in many countries around the world. (Photo by Dan Kitwood/Getty Images)
Ilustrasi unjuk rasa kematian George Floyd (Foto: David Ramos/Getty Images)
Washington DC -

Adik laki-laki George Floyd, yang kematiannya memicu demo besar-besaran menentang rasisme di Amerika Serikat, mengusulkan kepada Kongres AS untuk 'menghentikan rasa sakit'. Ia meminta agar Kongres meloloskan reformasi untuk mengatasi dan mengurangi kebrutalan polisi.

Dilansir AFP, Rabu (10/6/2020), adik laki-laki George Floyd, Philonise Floyd, hadir secara pribadi di sidang Kongres dan menggambarkan kesedihannya ketika menonton video kematian saudaranya. Ia mendesak anggota Parlemen menangani masalah sistemik dalam penegakan hukum.

"Aku di sini untuk memintamu menghentikannya. Hentikan rasa sakitnya. Aku tidak bisa memberitahumu jenis rasa sakit yang kamu rasakan ketika kamu menonton... kakak laki-lakimu, yang kamu pandangi sepanjang hidupmu, mati-matian memohon pada ibunya," ujar Philonise Floyd.

Philonise Floyd meminta Kongres memperhatikan apa yang terjadi pada unjuk rasa setelah kematian saudaranya. Philonise yang hadir mengenakan masker dan membawa foto saudaranya itu berharap kematian George tidak sia-sia.

"George meminta bantuan dan dia diabaikan. Tolong dengarkan panggilan yang saya buat untuk Anda sekarang, untuk panggilan keluarga kami, dan panggilan yang muncul di jalan-jalan di seluruh dunia," ujar Philonise Floyd.

"Mungkin dengan berbicara dengan Anda hari ini, aku bisa memastikan bahwa kematiannya tidak sia-sia," lanjutnya.

Partai Demokrat di AS mengusulkan reformasi menyeluruh yang bertujuan mengurasi rasisme sistemik dalam sistem penegakan hukum AS. Undang-undang ini bertujuan untuk menghentikan kebrutalan polisi.

Dalam undang-undang akan dibuat aturan agar lebih mudah menuntut petugas kepolisian karena pelecehan, menuntut adanya pelatihan anti-rasisme, dan melarang polisi yang dipecat bekerja kembali di kepolisian distrik lain.

Komite Kehakiman Dewan dari Partai Republik, Jim Jordan mengakui bahwa ini adalah waktu untuk berdiskusi tentang perlakuan polisi terhadap orang Afrika-Amerika. Partai Republik disebutnya juga ingin membuat perubahan pada sistem kepolisian.

"Ini salah, dan pembunuh saudara laki-lakimu akan menghadapi keadilan," ujar Jordan kepala Philonise Floyd.

(azr/azr)