Trump Kembali Salahkan China, Kini Kaitkan Corona Dengan Pembunuhan Massal

Trump Kembali Salahkan China, Kini Kaitkan Corona Dengan Pembunuhan Massal

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 21 Mei 2020 15:57 WIB
WASHINGTON, DC - MARCH 31: U.S. President Donald Trump participates in the daily coronavirus task force briefing in the Brady Briefing room at the White House on March 31, 2020 in Washington, DC. The top government scientists battling the coronavirus estimated on Tuesday that the virus could kill between 100,000 and 240,000 Americans. Trump warned that there will be a Very, very painful two weeks ahead as the nation continues to grapple with the outbreak of the COVID-19 virus.   Win McNamee/Getty Images/AFP
Foto: Presiden AS Donald Trump (Win McNamee/Getty Images/AFP)
New York -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump lagi-lagi menyalahkan China atas pandemi Corona (COVID-19). Kini Trump menyebut China bertanggung jawab atas 'pembunuhan massal' di seluruh dunia.

"Beberapa orang gila di China baru saja merilis pernyataan yang menyalahkan semua orang, selain China atas Virus yang kini telah membunuh ratusan ribu orang. Tolong jelaskan kepada orang bodoh ini bahwa itu adalah "ketidakmampuan Cina", dan tidak ada yang lain, yang membunuh massa di seluruh dunia ini!" tulis Trump di akun Twitternya, Rabu (20/5/2020).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tuduhan ini merupakan yang kesekian kalinya setelah Trump menuding Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bias ke China dalam penanganan Corona. Trump juga memutuskan untuk memangkas dana AS untuk WHO.

ADVERTISEMENT



Terbaru, dalam suratnya kepada Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Senin (18/5) waktu setempat, Trump mengancam akan menarik pendanaan AS secara permanen, jika WHO tidak melakukan apa yang disebutnya sebagai 'perbaikan substantif dalam 30 hari ke depan'.

Sementara itu, seperti dilansir kantor berita Xinhua News Agency, Rabu (20/5/2020), otoritas China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Zhao Lijian, mendorong AS untuk tetap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk secara bersama-sama mengalahkan pandemi Corona.

"Karena pandemi ini masih menyebar di AS dan banyak tempat lainnya di dunia, tugas paling mendesak adalah tetap bersatu untuk menyelamatkan nyawa dan mengupayakan pemulihan ekonomi. Kami mendorong sejumlah kecil politikus AS untuk berhenti menyalahkan pihak lain dan meningkatkan kerja sama internasional untuk mengalahkan virus ini bersama-sama," ujar Zhao dalam konferensi pers terbaru.

Lebih lanjut, Zhao menyebut surat Trump sebagai upaya untuk menyesatkan publik dan memfitnah China, serta mengabaikan tanggung jawab AS sendiri. "Upaya ini tidak akan berhasil," imbuhnya.

Tonton video WHO Periksa Surat Ultimatum yang Dikirimkan Trump:

Dijelaskan juga oleh Zhao bahwa proporsi dan standar kontribusi untuk WHO telah diputuskan oleh semua negara anggota dan kontribusi itu menjadi kewajiban yang mengikat secara hukum bagi seluruh negara anggota WHO. Keputusan AS untuk membekukan pendanaan untuk WHO, menurut Zhao, merupakan pelanggaran kewajiban internasional.

"Skala dan standar besaran kontribusi untuk WHO diputuskan secara bersama-sama oleh negara-negara anggota, bukannya ditentukan oleh AS sendiri. Itu menjadi kewajiban bagi AS, sebagai negara anggota WHO, untuk membayar besaran kontribusi secara tepat waktu dan penuh. Ini tidak bisa dinegosiasikan," terang Zhao dalam pernyataannya.

Halaman 2 dari 2
(rdp/idh)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini
Selengkapnya



Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Ajang penghargaan persembahan detikcom bersama Polri kepada sosok polisi teladan. Baca beragam kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini.
Hide Ads