Kasus Corona Meningkat, Erdogan Dikritik karena Tolak Lockdown Turki

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 08 Apr 2020 10:58 WIB
erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: Reuters)
Istanbul -

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menerapkan sejumlah langkah untuk mengendalikan penyebaran virus Corona. Namun penolakannya untuk menerapkan penguncian (lockdown) total telah menuai kritikan sejumlah pihak.

Di antara berbagai langkah tegas yang telah diterapkan di Turki adalah larangan pertemuan publik, pembatasan perjalanan antarkota dan mewajibkan memakai masker.

"Semua orang benar-benar harus tinggal di rumah, itu harus dibuat wajib," ujar seorang dokter yang menangani pasien COVID-19 di ICU sebuah rumah sakit di Istanbul.

"Kami menerima semakin banyak pasien setiap hari. Kami akan segera mencapai batas kapasitas kami," imbuhnya seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (8/4/2020).

Namun dengan terus meningkatnya jumlah kasus virus Corona, pemerintahan Erdogan makin didesak untuk menerapkan lockdown total seperti di Italia atau Prancis.

Partai-partai oposisi serta asosiasi medis TTB juga mendesak pemerintah untuk mengambil langkah lebih tegas guna melarang orang keluar rumah.

"Mustahil untuk mengendalikan pandemi ini jika jutaan orang pergi bekerja," kata ketua Serikat Dokter Turki (TTB), Sinan Adiyaman kepada media Turki.

Menurut data resmi yang dirilis pada Selasa (7/4) waktu setempat, Turki sejauh ini mencatat 34.109 kasus positif virus Corona dan 725 kematian. Turki menjadi negara kesembilan di dunia yang paling terdampak pandemi COVID-19.

Sebelumnya dalam wawancara dengan AFP, Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu juga meminta lockdown di kota yang menjadi ibu kota perekonomian Turki itu. Sebabnya, lebih dari separuh kasus Corona di Turki tercatat di Istanbul.

"Bahkan jika 15 persen penduduk pergi keluar, kita dengan cepat mencapai dua juta orang... Ini berpotensi meningkatkan ancaman (penularan)," kata Imamoglu dari partai oposisi itu.

Erdogan sejauh ini hanya menyerukan warga Turki untuk melakukan "karantina sukarela", bukan menjadikannya keharusan untuk tetap di rumah.

"Turki berkewajiban untuk terus memproduksi dan menjaga roda (ekonomi) terus berputar dalam keadaan apapun," tegas Erdogan.

Lonjakan Kematian di AS Akibat Corona Nyaris 2.000:

(ita/ita)