Kata Pasien Corona yang Sembuh: Seperti Pergi ke Gerbang Neraka dan Kembali

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 07 Apr 2020 17:11 WIB
In this photo released by Chinas Xinhua News Agency, medical workers in protective suits help transfer the first group of patients into the newly-completed Huoshenshan temporary field hospital in Wuhan in central Chinas Hubei province. China said Tuesday the number of infections from a new virus surpassed 20,000 as medical workers and patients arrived at a new hospital and President Xi Jinping said
Ilustrasi -- Petugas medis sedang membawa pasien virus Corona ke Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan, China (Xiao Yijiu/Xinhua via AP)
Beijing -

Seorang pasien virus Corona (COVID-19) di China yang telah sembuh menyebut virus yang mematikan ini telah mengubah caranya memandang hidup. Pasien ini menyebut dirinya bagaikan pergi ke 'gerbang neraka dan kembali' saat dia terinfeksi virus Corona dan akhirnya sembuh.

Seperti dilansir AFP, Selasa (7/4/2020), Wan Chunhui yang berusia 44 tahun ini sempat dirawat selama 17 hari di Rumah Sakit (RS) Huoshenshan di Wuhan, yang menjadi titik nol pandemi virus Corona. RS Huoshenshan merupakan rumah sakit yang dibangun secara kilat untuk secara khusus merawat pasien virus Corona.

Wan menceritakan bahwa awalnya dia mengisolasi diri untuk melindungi keluarganya, saat dia mendapati suhu tubuhnya tinggi. Namun beberapa hari kemudian, saat masih demam, dia memutuskan berjalan kaki selama satu jam ke rumah sakit. Pemeriksaan virus Corona tidak tersedia di rumah sakit yang didatanginya saat itu, namun dia diberi antibiotik dan obat flu. Wan juga diminta mengkarantina diri di rumah karena rumah sakit kekurangan kasur.

"Awalnya saya takut. Tapi ketika saya pulang ke rumah, saya mengubahnya menjadi suasana hati yang positif, dan mempersiapkan diri saya untuk situasi ini. Pokoknya tidak ada gunanya kita panik," tutur Wan kepada AFP.

Wan yang berprofesi sebagai investor dan memiliki seorang putri berusia 9 tahun ini, memiliki riwayat tekanan darah tinggi sebelum terinfeksi virus Corona. Di rumahnya, Wan mulai menulis catatan soal penyakitnya dalam sebuah catatan harian online. Namun batuk-batuk parah yang dialaminya memaksa Wan untuk dirawat di rumah sakit.

Disebutkan Wan bahwa terapi hormon membantu mengurangi suhu tubuhnya yang tinggi, meskipun dia tetap mengalami sesak napas. Wan menyebut bahwa pasokan medis saat itu tergolong langka. Menurutnya, para petugas medis memakai pakaian pelindung berkualitas rendah dan memakai plastik sampah sebagai penutup sepatu.

Wan kemudian dipindahkan ke salah satu rumah sakit yang dibangun khusus untuk pasien virus Corona di Wuhan. Rumah sakit itu, sebut Wan, memiliki pasokan medis yang memadai dan dirinya dirawat dengan sebagian besar obat-obatan dari negara Barat.

Menkes Setujui PSBB di Jakarta, Simak Batasan-batasannya!:

Selanjutnya
Halaman
1 2