Bantai 19 Penyandang Disabilitas, Pria di Jepang Ini Divonis Mati

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 16 Mar 2020 18:05 WIB
(FILES) This file photo taken on July 27, 2016 shows murder suspect Satoshi Uematsu (L) sitting in the back seat of a police vehicle as he returns to the Tsukui police station in Sagamihara, Kanagawa prefecture. - A Japan court on March 16, 2020 sentenced Uematsu to death for the murder of 19 people at a care home in 2016. (Photo by STR / JIJI PRESS / AFP) / Japan OUT
Satoshi Uematsu dalam foto tahun 2016 (STR/JIJI PRESS/AFP)
Tokyo -

Pengadilan Jepang menjatuhkan vonis mati terhadap seorang pria berusia 30 tahun yang dinyatakan bersalah membunuh 19 orang. Pria itu secara keji menikam mati orang-orang yang ditampung di panti khusus penyandang disabilitas.

Seperti dilansir AFP, Senin (16/3/2020), Satoshi Uematsu (30) tidak menyangkal keterlibatan dalam aksi pembantaian tahun 2016 lalu, yang disebut sebagai salah satu pembunuhan massal terparah di Jepang. Namun pengacaranya mengajukan pembelaan 'tak bersalah' untuk Uematsu.

Tim pengacaranya berargumen bahwa Uematsu menderita 'gangguan mental' terkait penggunaan narkoba.

Namun dalam persidangan, hakim ketua Kiyoshi Aonuma menolak argumen tim pengacara terdakwa dan menyatakan Uematsu tidak layak menerima keringanan hukuman. "Nyawa 19 orang direnggut. Ini sangat parah," ujar hakim Aonuma dalam sidang.

Disebutkan lebih lanjut oleh hakim Aonuma bahwa terdakwa telah merencanakan pembunuhan dan dia memiliki 'niat ekstrem untuk membunuh'. Motif pembunuhan itu tidak disebutkan lebih lanjut.

"Tidak ada ruang untuk keringanan hukuman," tegas hakim Aonuma saat menjatuhkan vonis pada Senin (16/3) waktu setempat.

Hakim Aonuma menegaskan bahwa ada seruan kuat dari keluarga korban, agar hukuman berat dijatuhkan terhadap terdakwa. "Kami mempertimbangkan bahwa terdakwa tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya dan kami mengambil pertimbangan yang hati-hati, namun kami menginginkan hukuman mati," tegasnya.

Dalam sidang sebelumnya, Uematsu menyatakan dirinya tidak akan mengajukan banding, apapun vonisnya. Dia tidak memberikan reaksi apapun saat mendengar vonis mati dijatuhkan terhadapnya.

(nvc/jbr)