Akhirnya! Iran Ajak Boeing Selidiki Jatuhnya Pesawat Maskapai Ukraina

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 10 Jan 2020 15:39 WIB
Ilustrasi (REUTERS/Paulo Whitaker/File Photo)
Teheran - Otoritas Iran mengundang pihak Boeing untuk ikut terlibat dalam penyelidikan jatuhnya pesawat maskapai Ukraina. Iran sebelumnya menolak untuk menyerahkan kotak hitam pesawat tersebut kepada Boeing dan Amerika Serikat (AS).

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (10/1/2020), langkah terbaru Iran ini disampaikan saat pemimpin negara-negara Barat mengungkapkan indikasi bahwa pesawat jenis Boeing 737-800 itu secara tidak sengaja dijatuhkan oleh rudal darat-ke-udara milik Iran. Pesawat maskapai Ukraine International Airlines itu jatuh sesaat usai lepas landas di Teheran dan seluruh 176 penumpang serta awak dipastikan tewas.

"Iran telah mengundang baik Ukraina dan perusahaan Boeing untuk berpartisipasi dalam penyelidikan," ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi, dalam pernyataan yang dikutip kantor berita IRNA.


Ditambahkan Mousavi bahwa Iran akan menyambut baik keterlibatan para pakar dari berbagai negara yang warganya menjadi korban kecelakaan pesawat Ukraina di pinggiran Teheran pada Rabu (8/1) waktu setempat. Dia memastikan bahwa penyelidikan akan berlangsung sesuai prinsip-prinsip internasional dan prinsip Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

Semula Iran menyatakan tidak akan mengizinkan Boeing, yang merupakan pabrikan pesawat yang jatuh, untuk terlibat dalam penyelidikan. Otoritas Iran juga sempat menolak untuk menyerahkan kotak hitam pesawat kepada Boeing dan AS. Hal itu jelas bertentangan dengan normal internasional untuk penyelidikan kecelakaan udara.

Belakangan, Iran mengumumkan pihaknya mengundang Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS atau NTSB untuk terlibat dalam penyelidikan. NSTB telah menyatakan akan bergabung dalam penyelidikan. Namun NTSB menyatakan masih akan 'mengevaluasi level partisipasi' karena peran-perannya bisa dibatasi oleh sanksi-sanksi AS yang diberlakukan terhadap Iran. Para pejabat AS juga menyampaikan kekhawatiran untuk mengirimkan staf ke Iran karena ketegangan yang masih tinggi antara kedua negara.
Selanjutnya
Halaman
1 2