Jenderalnya Dibunuh AS, Iran Umumkan Abaikan Batasan Pengayaan Nuklir

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 06 Jan 2020 19:02 WIB
Iran bersumpah akan membalas kematian Qasem Soleimani yang tewas dalam serangan drone AS di Irak pada 3 Januari lalu (AP Photo/Ebrahim Noroozi, File)

Diketahui bahwa kesepakatan nuklir Iran semakin terancam setelah AS menarik diri secara sepihak sejak tahun 2018. Lima negara lainnya, seperti Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan China berupaya membujuk Iran tetap memegang teguh komitmennya pada kesepakatan itu. Namun pengumuman terbaru dari Iran ini semakin menyamarkan situasi.

Hingga kini, Iran mengatakan pihaknya perlu melakukan pengayaan uranium hingga level 5 persen untuk bisa memproduksi bahan bakar bagi jaringan listrik di pusat pembangkit tenaga nuklir miliknya. Keputusan terbaru ini bisa membawa Iran lebih dekat dengan bom atom dan memicu ancaman proliferasi nuklir paling jelas sejak AS menarik diri.

Otoritas Iran juga menyatakan pihaknya akan melanjutkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sama 'seperti sebelumnya'. Namun pemimpin tiga negara Eropa, yakni Jerman, Prancis dan Inggris, mendesak Iran untuk memikirkan ulang keputusannya.

"Kami menyerukan kepada Iran untuk menarik diri dari semua langkah yang tidak sejalan dengan kesepakatan nuklir," demikian bunyi pernyataan gabungan Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.


Para pemimpin negara Eropa itu juga mendorong Iran untuk menahan diri dari melakukan 'aksi kekerasan lebih lanjut'. "Sangat penting sekarang untuk melakukan de-eskalasi. Kami menyerukan semua pihak yang terlibat untuk menunjukkan sikap menahan diri dan rasa tanggung jawab sepenuhnya," imbuh pernyataan gabungan tersebut.

Beberapa waktu terakhir, Iran telah melanggar sedikit ketentuan dalam kesepakatan nuklir dengan secara bertahap menaikkan level pengayaan demi mendorong pencabutan sanksi terhadap mereka. Iran diketahui telah meningkatkan produksi, memulai pengayaan uranium pada level 5 persen dan memulai kembali aktivitas pengayaan di fasilitas nuklir bawah tanah.
(nvc/hri)