Laporan media lokal Fontanka, yang mengutip sumber FSB, menyebutkan bahwa kedua pria itu merencanakan serangan di sebuah pusat perbelanjaan dan sebuah gereja katedral yang menjadi daya tarik utama wisatawan. Disebutkan juga bahwa keduanya telah mengirimkan sejumlah foto kepada ISIS untuk mengonfirmasi target-target.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Via situs resminya, dinas keamanan Rusia, FSB, kemudian mengumumkan penahanan kedua pria itu via situs resminya. Menurut FSB dalam pernyataannya, Semyonov dan Chernyshov telah mengakui bahwa mereka merencanakan serangan untuk perayaan Tahun Baru.
Dalam pengumuman itu, FSB turut merilis sebuah video yang menunjukkan momen penangkapan kedua pria itu dan saat penggerebekan dilakukan terhadap apartemen mereka. Sejumlah amunisi, pisau, kabel listrik dan pakaian serba hitam ditemukan dalam penggerebekan itu.
Video lainnya yang dirilis FSB kepada kantor berita Rusia menunjukkan salah satu tersangka, dengan wajah ditutupi masker, sedang menyatakan sumpah setia terhadap ISIS dalam bahasa Arab. FSB mengatakan penahanan Semyonov dan Chernyshov berkat informasi yang diberikan oleh 'mitra-mitra Amerika'.
Presiden Rusia, Vladimir Putin pun lantas menyampaikan ucapan terima kasih kepada Trump pada Minggu (29/12) waktu setempat. Putin berterima kasih atas informasi intelijen yang membantu menggagalkan rencana serangan tersebut.
"Terima kasih untuk transfer informasi, melalui dinas khusus, yang memampukan pencegahan aksi teroris di Rusia," demikian pernyataan Kremlin atau Istana Kepresidenan Rusia soal ucapan terima kasih untuk bantuan informasi intelijen dari AS.
Pada Senin (30/12) kemarin, Semyonov dan Chernyshov pun dihadirkan dalam persidangan yang digelar tertutup di Saint Petersburg. Hakim memerintahkan bahwa keduanya akan ditahan selama penyelidikan berlangsung.
Halaman 2 dari 2











































