Kejutkan Publik, Profesor Rusia Akui Bunuh dan Mutilasi Kekasihnya

Kejutkan Publik, Profesor Rusia Akui Bunuh dan Mutilasi Kekasihnya

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 11 Nov 2019 15:55 WIB
Kejutkan Publik, Profesor Rusia Akui Bunuh dan Mutilasi Kekasihnya
Oleg Sokolov memakai seragam jenderal militer Prancis dalam reka ulang sejarah (AP Photo/Dmitri Lovetsky, File)
Moskow - Seorang profesor terkemuka di Rusia yang juga dikenal sebagai pakar Napoleon, mengakui telah membunuh dan memutilasi kekasihnya. Sang profesor dari Saint Petersburg State University ini dievakuasi dari sebuah sungai yang membeku sambil membawa sebuah ransel berisi potongan tangan wanita.

Seperti dilansir AFP dan CNN, Senin (11/11/2019), Oleg Sokolov (63) yang seorang dosen sejarah ini, juga diketahui pernah menerima Legion d'Honneur -- penghargaan tertinggi di Prancis -- dari mantan Presiden Prancis, Jacques Chirac, tahun 2003 lalu. Sokolov ditangkap pada Sabtu (9/11) lalu atas kecurigaan pembunuhan. Kasus ini mengejutkan publik Rusia.

"Dia (Sokolov-red) telah mengakui kesalahannya," ucap pengacara Sokolov, Alexander Pochuev, kepada AFP. Disebutkan juga oleh Pochuev bahwa kliennya menyatakan menyesali perbuatannya dan bekerja sama dengan polisi setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pengadilan setempat, pada Senin (11/11) waktu setempat, akan memutuskan apakah Sokolov akan ditahan lebih lanjut. Kini, Sokolov tengah dirawat di rumah sakit setempat atas hipotermia yang dialaminya.

Sokolov dilaporkan mabuk dan terjatuh ke Sungai Moika di pusat kota Saint Petersburg, saat hendak membuang potongan jasad kekasihnya. Disebutkan bahwa kekasih Sokolov yang bernama Anastasia Yeshchenko (24) merupakan mantan mahasiswinya.

Dilaporkan bahwa Sokolov berencana bunuh diri setelah membuang potongan jasad kekasihnya. Disebutkan bahwa dia berniat bunuh diri di area Peter and Paul Fortress, salah satu landmark terkenal di Saint Petersburg, dengan memakai kostum Napoleon.

Sokolov dievakuasi dari Sungai Moika sambil membawa ransel berisi potongan tangan kekasihnyaSokolov dievakuasi dari Sungai Moika sambil membawa ransel berisi potongan tangan kekasihnya Foto: Olga Maltseva/AFP via Getty Images


Sokolov diketahui pernah menulis serangkaian risalah soal Napoleon Bonaparte dan perang era Napoleon. Dia juga menjadi konsultan di beberapa film serta terlibat dalam reka ulang sejarah untuk adegan-adegan perang Napoelon. Dalam reka ulang itu, Sokolov kerap memakai kostum Napoleon. Selain mengajar sejarah di Saint Petersburg State University -- yang merupakan almamater Presiden Vladimir Putin, Sokolov juga diketahui dekat dengan otoritas Rusia.

Laporan media-media lokal menyebut Sokolov mengakui kepada penyidik bahwa dirinya menembak dan membunuh kekasihnya saat bertengkar. Sokolov mengakui dirinya memutilasi jasad kekasihnya dengan gergaji.


Pochuev menyebut Sokolov mungkin dalam kondisi stres atau terganggu secara emosional. "Dia sudah lanjut usia," sebutnya.

Laporan juga menyebut bahwa polisi telah menemukan jasad Yeshchenko yang dimutilasi dan sebuah gergaji berlumuran darah di dalam rumah Sokolov. Dilaporkan bahwa Sokolov dan Yeshchenko pernah menulis sejumlah karya bersama.

Kasus ini mengejutkan publik Rusia. Beberapa pihak menyebut Sokolov memang sejak lama dikenal galak dan otoritas setempat mengabaikan laporan-laporan mahasiswa. Laporan media bahkan menyebut Sokolov pernah memukuli dan mengancam akan menyerang dan membunuh seorang mahasiswi lainnya pada tahun 2008 lalu, namun tidak pernah didakwa.

Oleg Sokolov saat ikut dalam reka ulang adegan perang antara tentara Napoleon dan pasukan RusiaOleg Sokolov saat ikut dalam reka ulang adegan perang antara tentara Napoleon dan pasukan Rusia Foto: Denis Sinyakov/AFP via Getty Images


Lebih dari 800 orang menandatangani sebuah petisi yang menyerukan agar otoritas Rusia menghukum kepemimpinan Saint Petersburg State University yang dianggap lalai. "Apa yang terjadi benar-benar mengerikan," ucap salah satu dosen universitas tersebut, yang enggan disebut namanya, kepada AFP.

Dosen yang sama menyebut Sokolov berdedikasi pada pekerjaannya, namun juga diketahui tidak stabil secara emosional dan seorang pecandu alkohol.

Juru bicara Grand Chancery of the Legion of Honour mengindikasikan bahwa penghargaan Legion d'Honneur yang disandang Sokolov bisa dicabut. Penghargaan itu diberikan atas kontribusi besar Sokolov dalam mempopulerkan sejarah Prancis. Keputusan mencabut penghargaan itu ada di tangan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Halaman 2 dari 3
(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads