Arab Saudi Halau Serangan Drone Houthi ke 2 Bandara Sipil

Arab Saudi Halau Serangan Drone Houthi ke 2 Bandara Sipil

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 06 Agu 2019 16:36 WIB
pemberontak Houthi di Yaman (Foto: Khaled Abdullah/REUTERS)
pemberontak Houthi di Yaman (Foto: Khaled Abdullah/REUTERS)
Riyadh - Pertahanan udara Arab Saudi kembali menghalau serangan drone yang menargetkan bandara-bandara sipil di negara tersebut. Drone-drone tersebut diluncurkan oleh kelompok pemberontak Houthi di Yaman.

Dalam sebuah statemen yang dimuat di media pemerintah Saudi seperti dilansir AFP, Selasa (6/8/2019), koalisi Saudi menyatakan serangan drone tersebut terjadi bersamaan pada Senin (5/8) waktu setempat. Namun tidak disebutkan lebih rinci mengenai target maupun jumlah drone yang berhasil dihalau.


Sebelumnya, stasiun televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi melaporkan bahwa drone-drone pemberontak Yaman tersebut menargetkan bandara-bandara sipil di kota Abha dan Najran, Saudi selatan serta pangkalan udara Raja Khaled di Khamis Mushait.

Serangan-serangan drone tersebut terjadi beberapa hari setelah kelompok Houthi melakukan serangan mematikan terhadap sebuah kamp pelatihan keamanan di dekat kota Aden yang dikuasai pemerintah Yaman. Houthi menyatakan bahwa pihaknya melakukan menembakkan sebuah rudal balistik dan sebuah drone ke kamp tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi telah meningkatkan serangan-serangan rudal dan drone di sepanjang perbatasan Saudi-Yaman. Sebelumnya sembilan warga sipil luka-luka dalam serangan Houthi di bandara Abha pada 3 Juli lalu.


Serangan rudal di bandara yang sama pada 12 Juni lalu melukai 26 warga sipil, hingga memicu peringatan "aksi tegas" dari koalisi Saudi. Pada 23 Juni lalu, serangan Houthi ke bandara Abha menewaskan seorang warga Suriah dan melukai 21 warga sipil.

Koalisi Saudi telah memerangi Houthi dengan melancarkan serangan-serangan udara di Yaman sejak Maret 2015 lalu. Sejak saat itu, konflik Yaman telah menewaskan ratusan ribu orang, yang kebanyakan merupakan warga sipil.

Konflik berkepanjangan tersebut telah memicu apa yang oleh PBB disebut sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan membutuhkan bantuan.

(ita/ita)