detikNews
Senin 22 Juli 2019, 17:49 WIB

Iran Tahan 17 Warganya yang Jadi Mata-mata CIA, Sebagian Akan Dieksekusi Mati

Novi Christiastuti - detikNews
Iran Tahan 17 Warganya yang Jadi Mata-mata CIA, Sebagian Akan Dieksekusi Mati Ilustrasi (AFP Photo/SAUL LOEB)
Teheran - Otoritas Iran telah menahan 17 warganya yang terseret kasus spionase. Sebagian dari mereka akan dieksekusi mati. Belasan warga Iran itu dituduh menjadi mata-mata bagi badan intelijen pusat Amerika Serikat atau CIA.

Kementerian Intelijen Iran dalam dokumennya, seperti dilansir CNN, Senin (22/7/2019), menyatakan pihaknya telah membongkar jaringan mata-mata CIA di Iran.

Disebutkan juga oleh Kementerian Intelijen dalam dokumennya bahwa sedikitnya 17 tersangka ditangkap terkait jaringan mata-mata tersebut. Seluruh tersangka disebut sebagai warga negara Iran. Menurut dokumen Kementerian Intelijen Iran, para tersangka itu telah mengakui bahwa mereka menjadi mata-mata untuk CIA.

"Para tertuduh yang menjalani hukuman di penjara menyebutkan janji-janji menggoda dari agen-agen CIA termasuk emigrasi ke AS, pekerjaan yang layak di Amerika dan uang," demikian bunyi dokumen Kementerian Intelijen Iran.


Dokumen Kementerian Intelijen Iran itu juga menyebut bahwa misi spionase mereka di Iran termasuk mengumpulkan informasi rahasia 'dari pusat-pusat penting juga dari operasi intelijen/teknis'.

Dokumen itu tidak menjelaskan secara detail soal hukuman yang dijatuhkan kepada para tertuduh. Hanya disebutkan Kementerian Intelijen Iran bahwa beberapa dari 17 tertuduh itu akan dieksekusi mati.

Disebutkan CNN bahwa dalam dokumen berjudul 'Takdir Para Mata-mata' itu, Kementerian Intelijen Iran menyatakan: "Individu-individu yang secara sadar dan dengan sengaja mengkhianati negaranya dan menolak untuk menebus kerugian, telah diserahkan pada sistem peradilan. Yang lainnya, yang bekerja sama secara jujur dengan sistem keamanan dan membuktikan penyesalan mereka, telah mendapat arahan intelijen melawan Amerika."

CIA belum mengomentari laporan ini.


Pengumuman ini muncul saat ketegangan antara Iran dengan negara-negara Barat, termasuk AS, semakin memuncak. Ketegangan itu semakin memburuk setelah tahun 2018 lalu, Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran.

Ketegangan itu merembet ke sektor maritim, dengan yang terbaru melibatkan aksi Iran menahan kapal tanker berbendera Inggris di perairan Selat Hormuz, pekan lalu. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menuduh kapal tanker itu 'melanggar aturan hukum internasional'. Namun Inggris memperingatkan Iran bahwa pihaknya akan mengambil langkah 'tegas' sebagai respons.

Penahanan kapal tanker berbendera Inggris itu terjadi beberapa pekan setelah otoritas Inggris menyita kapal tanker minyak milik Iran, Grace 1, di perairan Gibraltar. Kapal tanker Iran itu ditahan atas tuduhan berupaya menyalurkan minyak ke Suriah, yang jelas melanggar sanksi-sanksi Uni Eropa.




Simak Juga 'Hubungan Iran-AS Tegang Tapi Menolak Perang':

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com