DetikNews
Rabu 20 Februari 2019, 11:44 WIB

Wanita China yang Dijuluki 'Ratu Gading' Dibui 15 Tahun di Tanzania

Novi Christiastuti - detikNews
Wanita China yang Dijuluki Ratu Gading Dibui 15 Tahun di Tanzania Yang Feng Lan (Tanzania National Anti-poaching Taskforce via CNN)
Dodoma - Pengadilan Tanzania menjatuhkan vonis 15 tahun penjara terhadap seorang wanita China bernama Yang Feng Lan yang dijuluki 'Ratu Gading'. Yang disebut sebagai salah satu penyelundup paling jahat di Afrika atas perannya dalam penyelundupan gading yang berasal dari lebih 400 ekor gajah.

Seperti dilansir AFP dan CNN, Rabu (20/2/2019), Yang yang berusia 69 tahun ini dinyatakan bersalah atas penyelundupan 860 gading gajah antara tahun 2000 hingga tahun 2014 dalam persidangan yang digelar di Dar es Salaam pada Selasa (19/2) waktu setempat.

Penyelundupan ratusan gading gajah itu menunjukkan pembunuhan puluhan ekor gajah secara keji. Saat penyelundupan terjadi, ratusan gading gajah itu ditaksir otoritas setempat bernilai sekitar US$ 6,45 juta atau saat ini setara Rp 89,3 miliar.

Selain Yang, dua pria Tanzania yang disebut bernama Salivius Francis Matembo dan Manase Julius Philemon, juga dinyatakan bersalah atas peran mereka dalam perdagangan ilegal ini. Keduanya juga dijatuhi vonis masing-masing 15 tahun penjara.

"Penuntutan mampu membuktikan kasus ini terhadap terdakwa di luar alasan meragukan," tegas hakim Huruma Shaidi saat membacakan putusannya.


Hakim Shaidi mengatakan, dua terdakwa pria mengumpulkan gading gajah dari berbagai wilayah Tanzania untuk diserahkan kepada Yang. "Testimoni membuktikan bahwa ketiga terdakwa bekerja bersama-sama," imbuhnya.

Yang dan dua terdakwa lainnya juga diperintahkan membayar denda sebesar US$ 13 juta, secara gabungan. Besaran denda itu merupakan dua kali lipat hitungan kotor nilai pasaran dari gading-gading yang pernah mereka selundupkan.

Jika denda itu tak dibayarkan, ketiganya terancam hukuman tambahan masing-masing dua tahun penjara.

Pengacara para terdakwa menyatakan klien mereka akan mengajukan banding atas vonis tersebut.

Kasus ini akhirnya mencapai akhir usai lebih dari tiga tahun mengalami ketidakjelasan dan rentetan penundaan. Para aktivis hewan menyebut kasus ini sebagai salah satu kasus paling penting dalam beberapa tahun terakhir. Vonis yang dijatuhkan hakim diyakini akan mengirimkan pesan kuat kepada para penyelundup.


Tinggal di Afrika Timur sejak tahun 1970-an ini, Yang diyakini mengelola sindikat penyelundupan antara Tanzania dan Asia. Dia ditangkap pada 28 September 2015, setelah buron selama satu tahun. Saat ditangkap, Yang diketahui menjabat Wakil Presiden Dewan Bisnis China-Afrika untuk Wilayah Tanzania.

Perburuan liar diyakini sebagai pemicu menurunnya populasi gajah Afrika dalam satu dekade terakhir. Serikat Konservasi Alam Internasional (IUCN) menyebut saat ini populasi gajah Afrika hanya mencapai angka 415 ribu ekor. Perburuan gajah demi mencari gading masih marak karena tingginya permintaan, khususnya dari wilayah Asia di mana gading dipakai untuk perhiasan dan ornamen.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed