DetikNews
Minggu 17 Februari 2019, 16:47 WIB

Eks Elite NATO Peringatkan Uni Eropa Soal Intervensi Rusia dalam Pemilu

Danu Damarjati - detikNews
Eks Elite NATO Peringatkan Uni Eropa Soal Intervensi Rusia dalam Pemilu Foto ilustrasi: Bendera Uni Eropa dengan lubang menganga. (Dok. Getty Images)
Munchen - Mantan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Anders Fogh Rasmussen memperingatkan Uni Eropa supaya mencegah intervensi Rusia dan kekuatan asing terhadap Pemilu parlemen Eropa. Pemilu akan digelar pada bulan Mei nanti.

Dilansir AFP, Minggu (17/2/2019), Pemilu itu bakal diikuti 350 juta warga 27 negara Uni Eropa. Dia menyebut ada "kekuatan jahat" yang mengintai.

"Berdasarkan pengalaman sebelumnya, sangat mungkin ada kekuatan asing yang menargetkan banyak pemilu, termasuk yang dilakukan dengan cara membobol sistem pemilihan, secara diam-diam mendukung kandidat-kandidat, atau lewat berita-berita beracun di media tradisional maupun daring (online)," kata Rasmussen.



Mantan wakil presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memperingatkan adanya intervensi Rusia dan pelaku-pelaku lain. "Khususnya dari Rusia dan juga aktor-aktor lain, untuk menghancurkan kepercayaan orang-orang pada tiap proses demokrasi di negara-negara kita," ujar Biden pada peluncuran bersama lembaga Komisi Transatlatik untuk Integritas Pemilu.

Dia menyebut ada ancaman serangan siber, pengaruh operasi uang gelap, dan disinformasi. Mereka memunculkan inisiatif agar parpol-parpol dan para kandidat menandatangani janji untuk tidak meminta bantuan dan bersekongkol dengan orang yang hendak menghancurkan demokrasi.

Dia juga ingin agar tak ada yang menyebarkan hasil audio atau video "deep fake", yakni hasil manipulasi digital, serta penggunaan jejaring otomatis yang diistilahkan sebagai "bot" untuk menyebarkan pesan daring.



Inisiatif ini disebut sebagai kelompok politik bi-partisan transatlantik, berisikan pemimpin bidang politik, teknologi, bisnis, dan media. Mereka punya keinginan mencegah "gelombang baru intervensi terhadap pemilu".

"Intervensi asing terhadap pemilu bukan hanya ancaman serius terhadap institusi demokrasi, saya percaya ini juga merupakan ancaman terhadap keamanan," kata Biden.

Dia berbicara di sela acara Konferensi Keamanan, Munchen. Kepala intelijen dari Jerman, Prancis, dan Inggris hadir di acara ini. Kepala badan mata-mata Prancis DGSE, Bernard Emie, juga memperingatkan bahwa benua Eropa sedang menghadapi ancaman campur tangan dan agresi eksternal yang sedang bertumbuh.

"Ini datang dari pihak negara dan non-negara," kata Bernard Emie yang memperingatkan soal serangan siber yang bertujuan mendestabilisasi proses elektoral.



Ngomong-ngomong soal intervensi Rusia, baru-baru ini ada berita soal 'propaganda Rusia' di khalayak publik Indonesia. Awalnya, Jokowi yang merupakan capres petahana Pilpres 2019 bicara soal hal itu. Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia lewat akun Twitternya membantah adanya propaganda Rusia.

"Sebagaimana diketahui istilah 'propaganda Rusia' direkayasa pada tahun 2016 di Amerika Serikat dalam rangka kampanye pemilu presiden. Istilah ini sama sekali tidak berdasarkan pada realitas," tegas Kedubes Rusia lewat akun Twitter resmi @RusEmbJakarta pada Senin (4/1/2019).

Jokowi sendiri menegaskan, istilah 'propaganda Rusia' hanya terminologi dari artikel yang dia baca. Itu bukanlah merujuk ke Rusia sebagai negara. "Ini kita tidak bicara mengenai negara, bukan negara Rusia tapi terminologi dari artikel di Rand Corporation," kata Jokowi ditemui di kediaman Akbar Tandjung, Jl Purnawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (5/2/2019).
(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed