Dubes Saudi Untuk AS Bantah Pernah Suruh Khashoggi Pergi ke Turki

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 17 Nov 2018 13:42 WIB
Jamal Khashoggi (Foto: BBC World)
Washington - Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA menyimpulkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) memerintahkan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Kesimpulan CIA ini salah satunya didasarkan pada sadapan telepon Duta Besar (Dubes) Saudi untuk AS, Pangeran Khalid bin Salman yang tak lain adalah kakak MBS.

Menurut media ternama Washington Post seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (17/11/2018), pejabat-pejabat AS yang familiar dengan kesimpulan CIA ini mengatakan, Khalid mengatakan kepada Khashoggi via telepon agar dia datang ke Konsulat Saudi di Istanbul untuk mendapatkan berkas-berkas yang diperlukannya untuk pernikahannya dengan sang tunangan, dan menjamin hal itu aman dilakukannya. Tidak jelas apakah Khalid tahu bahwa Khashoggi akan dibunuh, namun dia disuruh MBS untuk menelepon Khashoggi.


Namun Pangeran Khalid langsung membantah laporan tersebut. Dalam postingan di Twitter pada Jumat (16/11), Khalid mengatakan bahwa kontak terakhirnya dengan Khashoggi adalah via pesan teks pada 26 Oktober 2017. Khalid juga menyatakan bahwa dirinya tak pernah menyarankan Khashoggi untuk pergi ke Turki.

"Saya tak pernah berbicara dengan dia lewat telepon dan tentu saja tidak pernah menyarankan dia pergi ke Turki untuk alasan apa pun," demikian postingan Pangeran Khalid di Twitter seperti dilansir New York Times, Sabtu (17/11/2018).

Juru bicara Kedutaan Besar Saudi di Washington, Fatimah Baeshen, juga mengatakan, Khalid dan Khashoggi tak pernah membahas "apapun terkait pergi ke Turki". Dikatakannya, klaim yang disampaikan dalam kesimpulan CIA tersebut adalah palsu.


Hasil kesimpulan CIA mengenai peran MBS dalam pembunuhan Khashoggi ini pertama kali dilaporkan oleh media Washington Post pada Jumat (16/11) waktu setempat. Menurut Washington Post, kesimpulan CIA mengenai peran MBS juga didasarkan pada penilaian CIA mengenai MBS sebagai penguasa de facto Saudi yang mengawasi semua hal, bahkan urusan kecil sekalipun di Saudi.

"Pemahaman yang bisa diterima adalah bahwa tak mungkin ini terjadi tanpa dia (MBS) tahu atau terlibat," kata seorang pejabat AS yang familiar dengan kesimpulan CIA ini seperti dilansir kantor berita AFP.

Para analis CIA meyakini bahwa kekuasaan MBS sangat kuat dan tidak akan kehilangan statusnya sebagai Putra Mahkota meskipun adanya skandal Khashoggi ini. "Kesepakatan umumnya adalah dia kemungkinan akan bertahan," kata pejabat AS tersebut. (ita/ita)