DetikNews
Selasa 06 November 2018, 17:18 WIB

Jelang Pemilu Sela, Warga AS Diimbau Waspadai Hoax dari Rusia

Novi Christiastuti - detikNews
Jelang Pemilu Sela, Warga AS Diimbau Waspadai Hoax dari Rusia Ilustrasi (AFP PHOTO/MARK RALSTON)
Washington DC - Menjelang digelarnya pemilu sela 6 November, badan penegak hukum dan intelijen Amerika Serikat (AS) memperingatkan para pemilih untuk waspada pada berita-berita palsu atau hoax yang disebarkan Rusia. Sejauh ini, dinyatakan tak ada indikasi upaya untuk mengganggu pemilu sela AS.

Seruan ini disampaikan beberapa hari setelah kajian terbaru menyebut informasi palsu di media sosial (medsos) menyebar lebih banyak dibandingkan saat pemilihan presiden (pilpres) 2016 lalu. Diketahui bahwa saat pilpres 2016, Rusia dituding memanipulasi melalui kampanye propaganda besar-besaran demi menguntungkan Donald Trump yang kini menjabat Presiden AS.

"Pada saat ini, kami tidak memiliki indikasi kompromi pada infrastruktur pemilu negara kita yang akan mencegah pemungutan suara, mengubah hitungan suara, atau mengganggu kemampuan penghitungan suara," demikian bunyi pernyataan gabungan dari Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kirstjen Nielsen, Jaksa Agung Jeff Sessions, Direktur Intelijen Nasional AS Dan Coats dan Direktur FBI Christopher Wray, seperti dilansir AFP, Selasa (6/11/2018).

"Tapi warga Amerika harus waspada pada aktor-aktor asing -- dan Rusia khususnya -- yang terus berupaya mempengaruhi sentimen publik dan persepsi pemilih melalui aksi-aksi yang bertujuan memicu perselisihan," tegas pernyataan tersebut.


Tidak disebutkan lebih lanjut dalam pernyataan gabungan itu apakah aksi yang dilakukan aktor asing tersebut dimaksudkan mendukung Partai Republik yang menaungi Trump atau Partai Demokrat yang kini menjadi oposisi pemerintah.

"Mereka bisa melakukan ini dengan menyebarkan informasi palsu soal proses politik dan para kandidat, berbohong soal aktivitas campur tangan mereka, menyebar propaganda di media sosial dan melalui taktik-taktik lainnya," sebut pernyataan itu.

"Publik Amerika bisa meredakan upaya-upaya ini dengan tetap memberitahu, melaporkan aktivitas mencurigakan dan menjadi konsumen informasi yang waspada," imbuh pernyataan tersebut.


Diketahui bahwa kajian yang dirilis para peneliti pada Oxford Internet Institute pada Kamis (1/11) lalu menyebutkan keberadaan 'junk news' yang menyebar lebih banyak di media sosial dibandingkan tahun 2016 menjelang pemilu sela 6 November waktu AS.

"Kami mendapati bahwa proporsi 'junk news' yang beredar di media sosial telah meningkat di AS sejak 2016, dengan para pengguna banyak membagikan proporsi 'junk news' dibandingkan tautan untuk konten profesional," demikian bunyi kajian Oxford Internet Institute tersebut.

Laporan terpisah menyebut Twitter telah menghapus 'sejumlah akun' yang dianggap berupaya menyebarkan informasi palsu. Jumlah akun yang dihapus tidak disebut lebih lanjut.


Sementara Facebook melaporkan bahwa pihaknya memblokir total 115 akun, yang terdiri atas 30 akun Facebook dan 85 akun Instagram, menjelang pemilu sela AS. Akun-akun yang diblokir itu diduga terkait 'entitas asing' yang berupaya mencampuri jalannya pemilu sela AS.

Disebutkan Kepala Kebijakan Keamanan Siber Facebook, Nathaniel Gleicher, bahwa hasil penyelidikan sementara menunjukkan akun-akun yang diblokir tampak terlibat 'perilaku tidak autentik yang terkoordinasi'.


(nvc/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed