DetikNews
Kamis 11 Oktober 2018, 17:15 WIB

AS Adili Mata-mata China yang Berusaha Curi Rahasia Penerbangan

Novi Christiastuti - detikNews
AS Adili Mata-mata China yang Berusaha Curi Rahasia Penerbangan Ilustrasi (Dok. Anadolu Agency)
Washington DC - Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) telah menangkap dan mendakwa seorang warga China yang diduga menjadi mata-mata. Mata-mata China ini didakwa berusaha mencuri rahasia penerbangan dan dirgantara AS.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (11/10/2018), mata-mata China yang diidentifikasi bernama Xu Yanjun ini, awalnya ditangkap di Belgia sejak April lalu, terkait penyelidikan yang dilakukan Biro Investigasi Federal (FBI). Laporan The Washington Post menyebut Xu dipancing ke Belgia oleh agen-agen federal AS.

Dia diekstradisi ke AS pada Selasa (9/10) waktu setempat. FBI menyebutnya sebagai ekstradisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Otoritas AS menyebut Xu sebagai mata-mata untuk Kementerian Keamanan Negara China. Dia dijerat dakwaan spionase ekonomi dan percobaan mencuri rahasia perdagangan dari beberapa perusahaan penerbangan dan dirgantara AS. Dakwaan ini dijeratkan saat AS tengah meningkatkan tekanan terhadap China atas kebijakan-kebijakan perdagangan dan dugaan pencurian properti intelektual AS.

"Ini merupakan ekstradisi seorang agen intelijen China yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mengungkap pengawasan langsung pemerintah China atas spionase ekonomi terhadap Amerika Serikat," ujar Asisten Direktur Kontraintelijen FBI, Bill Priestap.

Pernyataan Departemen Kehakiman AS menyebut Xu sebagai Wakil Direktur Divisi pada Departemen Keamanan Negara untuk Provinsi Jiangsu. Disebutkan bahwa Xu menargetkan sejumlah perusahaan dirgantara AS, termasuk GE Aviation yang merupakan anak perusahaan General Electric Co.


Perusahaan dirgantara lainnya yang menjadi target Xu tidak disebut namanya, melainkan hanya disebut sebagai 'salah satu perusahaan dirgantara terbesar dunia dan manufaktur terkemuka untuk pesawat jet komersial dan pertahanan, luar angkasa dan sistem keamanan'.

Satu perusahaan lainnya yang menjadi target disebut sebagai pemimpin dalam teknologi kendaraan udara tanpa awak. GE Aviation diketahui menyuplai mesin untuk pesawat-pesawat Boeing Co dan Airbus SE dan kini sedang mengerjakan mesin generasi baru untuk pesawat komersial dan helikopter militer pembawa muatan berat.

Dakwaan menyebut Xu telah menargetkan perusahaan-perusahaan penerbangan AS sejak Desember 2013. Disebutkan juga bahwa Xu melakukan komunikasi dengan para pakar yang bekerja untuk perusahaan-perusahaan itu dan merekrut mereka untuk bepergian ke China. Kunjungan terkadang dilakukan dengan tujuan presentasi di universitas setempat. Xu disebut membayar biaya perjalanan dan memberikan upah kepada para pakar itu.


Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang, menyebut tuduhan itu 'murni direkayasa'. "Kami mengharapkan pihak Amerika bisa bertindak adil dan dengan mematuhi hukum, menjaga hak-hak legal warga negara China," tegasnya.

Dalam kasus ini, Xu terancam hukuman maksimum 15 tahun penjara untuk dakwaan spionase ekonomi dan hukuman maksimum 10 tahun penjara untuk dakwaan berusaha mencuri rahasia perdagangan AS.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed