Pesawat-pesawat Pengebom AS Melintasi Laut China Selatan, Ada Apa?

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 27 Sep 2018 14:21 WIB
Ilustrasi -- Pesawat pengebom B-52 (AFP/Elliott VERDIER)
Washington DC - Sejumlah pesawat pengebom B-52 milik militer Amerika Serikat (AS) terbang melintasi perairan Laut China Selatan pekan ini. Aktivitas ini berpotensi memicu kemarahan China terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Juru bicara Pentagon, Letnan Kolonel Dave Eastburn mengatakan kepada Reuters, Kamis (27/9/2018), sejumlah pesawat pengebom B-52 milik AS melintasi perairan Laut China Selatan sebagai bagian dari operasi rutin.

"Operasi terjadwal rutin yang dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas dengan mitra-mitra dan sekutu kami di kawasan tersebut," ujar Eastburn dalam pernyataannya.

Menurut Eastburn, penerbangan semacam itu wajar, namun biasanya membuat marah otoritas China. Pada Juni lalu, Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak ada kapal maupun pesawat militer yang bisa membuat China menanggalkan tekadnya untuk melindungi wilayahnya setelah pesawat pengebom B-52 milik AS terbang di dekat pulau yang menjadi sengketa di Laut China Selatan.


AS dan China tergolong cukup sering berselisih soal militerisasi di perairan Laut China Selatan, yang menjadi sengketa antara China, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam dan Filipina.

"Jika itu terjadi 20 tahun lalu dan (China-red) tidak memiliterisasi fitur-fitur itu di sana, tentu itu hanya menjadi pesawat pengebom yang terbang ke Diego Garcia atau yang lain," ucap Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, kepada wartawan.

Ditambahkan oleh Eastburn, AS juga menerbangkan sejumlah pesawat pengebom B-52 melintasi wilayah perairan Laut China Timur pada Selasa (25/9) waktu setempat. Aktivitas itu disebut sebagai bagian dari 'operasi rutin terjadwal dan terkombinasi'.

Baru-baru ini, China menolak memberikan izin bagi kapal perang AS yang akan mengunjungi Hong Kong. China juga memanggil Duta Besar AS di Beijing dan menunda pembicaraan militer gabungan untuk memprotes keputusan AS menjatuhkan sanksi terhadap badan militer China dan direkturnya karena membeli jet tempur Rusia serta sistem rudal darat-ke-udara.


Diketahui bahwa kini AS dan China sedang terlibat perang perdagangan, yang dipicu tudingan Presiden Donald Trump bahwa China sejak lama mencuri properti intelektual AS, membatasi akses ke pasar dan melakukan subsidi secara tidak adil pada perusahaan-perusahaan milik negara.

Yang terbaru, Trump menuding China berupaya mengintervensi pemilu kongres AS yang akan digelar November mendatang. Trump mencetuskan, China tidak ingin Partai Republik yang menaunginya menang dalam pemilu.

(nvc/ita)