Trump Ingin Bunuh Assad Usai Serangan Kimia di Suriah

Trump Ingin Bunuh Assad Usai Serangan Kimia di Suriah

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 05 Sep 2018 12:58 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Foto: BBC World
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Foto: BBC World
Washington - Sebuah buku baru membeberkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin membunuh Presiden Suriah Bashar al-Assad usai serangan kimia di Suriah pada tahun 2017.

Dalam buku yang ditulis jurnalis Washington Post, Bob Woodward tersebut, dituliskan bahwa Trump mengatakan pada Menteri Pertahanan AS James Mattis bahwa dirinya ingin membunuh Assad. Hal itu disampaikan Trump setelah Washington menuduh pemerintahan Assad mendalangi serangan senjata kimia di Khan Shaykhun, provinsi Idlib, Suriah tahun lalu.

"Ayok... kita bunuh dia! Ayok masuk ke sana. Ayok kita bunuh... banyak dari mereka," kata Trump kepada Mattis saat itu via telepon, dalam kutipan buku tersebut seperti dilansir Press TV, Rabu (5/9/2018).



Di buku itu disebutkan, Mattis tampak ingin menenangkan Trump dengan mengatakan bahwa dirinya akan mengurus hal tersebut. Namun setelah panggilan telepon tersebut berakhir, Mattis mengatakan pada seorang asisten senior, "Kita tidak akan melakukan semua itu. Kita akan jauh lebih terukur," tulis Woodward dalam buku tersebut.

Tim keamanan nasional AS kemudian menyiapkan rencana serangan udara yang lebih konvensional, yang pada akhirnya diperintahkan oleh Trump untuk dilaksanakan.




Sebelumnya pada 4 April 2017, serangan gas sarin dilaporkan terjadi di kota Khan Shaykhun, provinsi Idlib dan menewaskan lebih dari 80 warga Suriah. Negara-negara Barat menyalahkan insiden itu pada pemerintahan Assad. Menyusul serangan tersebut, AS pun melancarkan serangan rudal terhadap Pangkalan Udara Shayrat di Provinsi Homs, Suriah pada 7 April 2017.

Beberapa jam setelah kutipan buku tersebut dipublikasi, Gedung Putih menyampaikan kecaman atas buku Woodward tersebut.

"Buku ini tak lebih dari kisah-kisah yang direkayasa, kebanyakan oleh mantan pegawai yang tidak puas, yang disampaikan untuk membuat Presiden terlihat buruk," tegas juru bicara pers Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders dalam sebuah statemen.

Buku Woodward tersebut direncanakan untuk beredar di pasaran mulai pekan depan.

(ita/ita)