DetikNews
Jumat 17 Agustus 2018, 17:45 WIB

Turki Ancam Balas AS Jika Ada Sanksi Tambahan

Novi Christiastuti - detikNews
Turki Ancam Balas AS Jika Ada Sanksi Tambahan Ilustrasi (REUTERS/Umit Bektas)
Ankara - Pemerintah Turki tidak takut dengan ancaman Amerika Serikat (AS) yang akan menjatuhkan lebih banyak sanksi jika pendeta AS Andrew Brunson tidak juga dibebaskan. Turki malah balik mengancam akan membalas AS jika sanksi tambahan dijatuhkan terhadapnya.

"Kami telah mulai merespons berdasarkan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan akan terus melanjutkannya," tegas Menteri Perdagangan Turki, Muhsar Pekcan, seperti dikutip kantor berita Anadolu Agency dan dilansir AFP, Jumat (17/8/2018).

Otoritas AS, melalui Menteri Keuangan Steven Mnuchin, sebelumnya mengancam akan menjatuhkan lebih banyak sanksi terhadap Turki jika pendeta Brunson, tidak segera dibebaskan. Dalam rapat kabinet, Mnuchin menyatakan rentetan sanksi akan segera datang untuk Turki.

"Kita telah menjatuhkan sanksi-sanksi terhadap sejumlah anggota kabinet mereka (Turki-red)," ucap Mnuchin. "Kita memiliki lebih banyak lagi (sanksi-red), yang kita rencanakan akan kita jatuhkan jika mereka tidak membebaskannya segera," tegas Mnuchin, merujuk pada pendeta Brunson.


Presiden AS Donald Trump menanggapi pernyataan Munchin itu dengan menyebut Turki tidak pernah menjadi teman yang baik untuk AS. Dia menyebut pendeta Brunson sebagai 'pria yang sangat tidak bersalah'. Via akun Twitter-nya, Trump kemudian menyebut pendeta Brunson yang ditahan sejak tahun 2016, sebagai 'patriot hebat' yang menjadi 'sandera'.

Pendeta Brunson ditangkap Turki pada Oktober 2016. Dia dituding membantu organisasi pimpinan ulama Fethullah Gulen, yang bermukim di AS dan dituding mendalangi upaya kudeta terhadap Erdogan tahun 2016 lalu. Dia juga didakwa mendukung kelompok Kurdi terlarang, Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Turki dan AS. Brunson telah membantah tuduhan-tuduhan itu.

Setelah mendekam di penjara Turki selama 21 bulan, Brunson ditetapkan sebagai tahanan rumah pada 25 Juli lalu. Pengadilan Turki mewajibkan Brunson selalu memakai gelang elektronik dan melarangnya bepergian ke luar Turki. Brunson sempat dua kali mengajukan banding untuk bebas dari tahanan rumah, namun ditolak pengadilan Turki.

AS berulang kali menyerukan agar Turki membebaskan pendeta Brunson, namun tidak digubris. Sanksi ekonomi terhadap dua menteri Turki -- Menteri Kehakiman Turki Abdulhamit Gul dan Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu lantas dijatuhkan AS.


Tak hanya itu, AS juga melipatgandakan tarif impor baja dan aluminium terhadap Turki. Berbagai tekanan yang diberikan AS terhadap Turki itu berdampak besar pada mata uang Turki, Lira, yang sempat terjun bebas pekan lalu.



Tonton juga video: 'Ledakan Bom di Kedubes AS di China'

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed