DetikNews
Kamis 12 Juli 2018, 08:21 WIB

Harun Yahya: Anti-Teori Evolusi, Pernah Dijebloskan ke RSJ

Danu Damarjati, Danu Damarjati - detikNews
Harun Yahya: Anti-Teori Evolusi, Pernah Dijebloskan ke RSJ Adnan Oktar alias Harun Yahya (Anadolu Agency)
FOKUS BERITA: Harun Yahya Ditangkap
Istanbul - Buku dan video Harun Yahya populer di Indonesia. Dia banyak berbicara menentang teori evolusi Charles Darwin dan mengaitkannya dengan agama Islam. Kini Harun Yahya telah dicokok polisi Turki. Siapa sebenarnya Harun Yahya?

Dilansir dari situs harunyahya.com, Kamis (12/7/2018), dia adalah pria kelahiran Ankara, 1956. Pria bernama asli Adnan Oktar itu kini telah berusia 62 tahun.

Dia besar di keluarga sekuler kelas menengah Turki. Hanya kakeknya yang menunaikan salat lima waktu. Ayahnya hanya salat Jumat saja. Sejak masa sekolah, berdasarkan situs bikinannya itu, dia mengaku sudah tertarik dengan agama Islam.



Saksikan juga video 'Harun Yahya dan Kontroversi Perempuan 'kittens':

[Gambas:Video 20detik]


Kota Ankara semasa dia beranjak dewasa dipenuhi peristiwa rusuh. Saat itu sedang masa ketegangan Perang Dingin, ada pula ketegangan kubu pengikut Mustafa Kemal Attaturk yang sekular dan kebangkitan militan Islamis.

Pada 1979, dia masuk Universitas Mimar Sinan, belajar arsitektur interior. Pada saat itu, pengaruh Marxisme dan ideologi kiri lainnya sedang menggejala di kalangan masyarakat intelektual Turki. Oktar ingin melawan popularitas ideologi itu. Mulai periode ini, dia gemar berceramah tentang Islam.

Dia kemudian mengambil kuliah di Departemen Filsafat, Universitas Istanbul. Pada periode ini dia mulai rajin menulis buku dan mendistribusikannya.


Pada musim panas 1986, Adnan Oktar dicokok aparat. Inilah pemenjaraan pertama yang dialaminya. Pemenjaraannya bukan di penjara umumnya. Kakinya dirantai ke tempat tidur di Departemen Obat Forensik selama 40 hari. Dia kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa Bakirkoy karena divonis mengidap gangguan jiwa.

Setelah ditahan selama 19 bulan, dia dilepas. Dia mulai lagi menulis soal tentangan terhadap teori evolusi Charles Darwin. Posisinya adalah sebagai kreasionis (pro-penciptaan) yang tak sepaham dengan evolusionis. Kreasionisme berdasarkan nilai ketuhanan pada dasarnya percaya bahwa semua makhluk diciptakan Tuhan, bukan berevolusi.

Pada 1991, polisi menggeledah rumah Oktar di distrik Ortakoy Istanbul. Polisi menemukan sepaket kokain di buku Oktar. Dari hasil tes medis, Oktar terbukti mengonsumsi kokain.


Oktar berujar ini cuma konspirasi aparat saja. Dia menyatakan, ada yang mencampur makanannya dengan kokain sehingga kokain itu masuk ke tubuhnya. Dia kemudian dibebaskan.

Adnan Oktar, dengan nama pena Harun Yahya, telah menulis lebih dari 300 buku, diterjemahkan ke dalam 37 bahasa. Di Indonesia, buku-buku Harun Yahya juga sudah populer, kira-kira sejak akhir '90-an. Pada 2006, dia menulis buku berjudul 'Atlas of Creation'.

Dia punya saluran televisi sendiri di Turki, namanya A9 TV yang diluncurkan pada 21 Maret 2011. Di situ ada program bincang-bincang Oktar yang mencampur-adukkan pembicaraan-pembicaraan soal Islam dengan tampilan perempuan-perempuan berpakaian seksi.


Pada 31 Januari, Kepala Direktorat Hubungan Keagamaan Turki (Diyanet), Ali Erbas, menilai bentuk tayangan semacam itu tak layak. Ali Erbas punya penilaian tersendiri terhadap sosok Oktar.

"Dia sepertinya kehilangan keseimbangan mentalnya," kata Ali Erbas, dilansir Hurriyet Daily News.

Oktar dikenal sebagai pemimpin kelompok kultus paling bereputasi buruk di Turki. Buku-bukunya dinilai hanya dijejali oleh teori konspirasi soal kreasionisme dan freemason.


"Sekarang dia mengaku dia adalah anggota freemason. Namun dia pernah dihukum gara-gara komentarnya soal freemason. Dia juga pernah dipenjara karena menghina Ataturk pada 1980-an dan 1990-an. Namun kini dia berbicara seolah-olah dia adalah pengikut Mustafa Kemal Ataturk yang paling besar. Dia adalah orang yang buruk," kata Erbas.

Harun Yahya: Anti-Teori Evolusi, Pernah Dijebloskan ke RSJ

(dnu/jbr)
FOKUS BERITA: Harun Yahya Ditangkap
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed