DetikNews
Senin 11 Juni 2018, 17:21 WIB

Klaim Najib Soal Proyek Pipa Gas Mencurigakan Dianggap Tak Benar

Novi Christiastuti - detikNews
Klaim Najib Soal Proyek Pipa Gas Mencurigakan Dianggap Tak Benar Najib Razak (REUTERS/Lai Seng Sin)
FOKUS BERITA: Najib Razak Ditangkap
Kuala Lumpur - Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak kembali diserang terkait dua proyek pipa gas yang mencurigakan. Klaim Najib soal komitmen China mengimpor barang-barang senilai US$ 2 triliun sebagai bagian dari kesepakatan proyek senilai 9,4 miliar ringgit (Rp 32,7 triliun) disebut tidak benar.

"Seluruh pejabat yang ditanya menyatakan bahwa klaim-klaim oleh Datuk Seri Najib ini tidak benar," tegas Menteri Keuangan (Menkeu) Malaysia Lim Guan Eng dalam pernyataan terbaru, seperti dilansir The Star, Senin (11/6/2018).

Ditegaskan Lim bahwa komitmen impor dari China itu tidak pernah disebut dalam dokumen kesepakatan dua proyek pipa gas itu, yang diajukan kabinet pemerintahan Najib tahun 2016 dan 2017 lalu. Dua proyek itu ditangani oleh Suria Strategic Energy Resources Sdn Bhd atau SSER.

"Kecuali jika ada dokumen kabinet tersembunyi atau notula 'merah' kabinet, yang siapa pun tidak memiliki akses kecuali mantan Perdana Menteri sendiri," sebutnya.


Dua proyek pipa gas itu dianggap mencurigakan karena pemerintahan era Najib telah memberikan pembayaran 8,25 miliar ringgit (Rp 28,6 triliun) atau 87,7 persen dari total nilai proyek terhadap China Petroleum Pipeline Bureau (CPPB) yang mengerjakan proyek itu, padahal pengerjaannya baru mencapai angka 13 persen.

Dalam pernyataan pada 5 Juni, Najib yang saat itu juga menjabat Menkeu, membela diri. Dia menekankan seluruh prosedur dan proses hukum telah dipenuhi dalam negosiasi dan pelaksanaan kedua proyek itu. Najib mengklaim bahwa dirinya dan PM China Li Keqiang menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kedua proyek itu dalam kunjungan ke Beijing pada 14 Mei 2017. Najib juga menyebut dua proyek itu membawa manfaat ekonomi dan keamanan energi bagi Malaysia.

Dikatakan Najib, selama penandatanganan MoU, China juga berkomitmen untuk mengimpor barang-barang dari Malaysia senilai US$ 2 triliun untuk lima tahun ke depan. Menurut Najib, China juga berjanji akan berinvestasi sebesar US$ 150 miliar di Malaysia dan menawarkan 10 ribu tempat pelatihan dan belajar di berbagai institusi di China. Semua itu disebut sebagai bagian dari kesepakatan proyek. Klaim ini yang disebut Lim tidak benar.

"Datuk Seri Najib dengan sengaja tidak fokus pada pernyataan pokok soal skandal pipa gas 9,4 miliar ringgit tapi malah fokus pada klaim benefit untuk negara ini dari menandatangani kontrak 9,4 miliar ringgit ini," kritik Lim dalam pernyataannya.


"Datuk Seri Najib dengan sengaja menolak menanggapi pernyataan pokok soal skandal 9,4 miliar ringgit ini, terutama soal mengapa pembayaran 8,3 miliar ringgit, yang ekuivalen dengan 88 persen nilai proyek tetap dilakukan meskipun hanya 13 persen pengerjaan progresif yang diselesaikan," sebut Lim.

"Mengapa dia mengizinkan pembayaran semacam itu dilakukan dalam tahun pertama dari kontrak 3 tahun? Sebanyak 88 persen dana telah dibayarkan meski proyek Multi-Product Pipeline (MPP) dan Trans-Sabah Gas Pipeline (TSGP) tercatat baru selesai 14,5 persen dan 11,4 persen, secara berurutan, pada akhir Maret 2018, atau rata-rata 13 persen," imbuhnya.


(nvc/ita)
FOKUS BERITA: Najib Razak Ditangkap
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed