Menteri Luar Negeri (Menlu) Kanada Chrystia Freeland mengatakan kepada para wartawan, tawaran suaka tidak mengesampingkan kemungkinan warga Rohingya kembali ke rumah mereka, seperti yang telah disampaikan kebanyakan orang. Namun lanjut Freeland, situasi di Myanmar saat ini tidak kondusif bagi mereka untuk kembali.
Sekitar 700 ribu warga muslim Rohingya kabur ke negara tetangga Bangladesh setelah militer Myanmar melancarkan operasi militer di negara bagian Rakhine pada Agustus 2017 lalu. Para pengungsi Rohingya itu tinggal di kamp-kamp pengungsi yang kumuh dan padat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Persekusi masih terjadi," imbuhnya.
Menteri Kanada itu menolak untuk menyebutkan berapa jumlah pengungsi Rohingya yang akan diterima dan kapan. Dikatakannya, hal itu tergantung pada badan pengungsi PBB yang akan mengkoordinir penerimaan pengungsi.
Freeland juga mengatakan, pemerintah Kanada akan bekerja sama dengan Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) untuk memastikan adanya pengadilan bagi mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM dan pelanggaran lainnya di Myanmar. Freeland pun menyebut perlakuan terhadap warga Rohingya sebagai pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
"Penting bagi orang-orang yang bertanggung jawab atas kekejaman ini, untuk memahami bahwa mereka akan menghadapi pengadilan, bahwa komunitas dunia sedang menyaksikan... bahwa pada akhirnya tak akan ada tempat untuk bersembunyi," tegas Freeland.
Pemerintah Kanada menjanjikan bantuan senilai US$ 233 juta selama tiga tahun untuk para pengungsi Rohingya. Freeland mengatakan, pemerintah Kanada akan bekerja sama dengan negara-negara lain dan PBB untuk menyusun rencana dalam menghadapi krisis pengungsi Rohingya.
Simak video Pengungsi Rohingya Dilanda Kekhawatiran Sambut Ramadan (ita/ita)











































