DetikNews
Senin 16 April 2018, 05:31 WIB

Investigasi Senjata Kimia di Suriah Dijalankan Usai Serangan AS

Danu Damarjati - detikNews
Investigasi Senjata Kimia di Suriah Dijalankan Usai Serangan AS Kehancuran usai serangan AS dkk di Suriah. (LOUAI BESHARA/AFP).
Damaskus - Para pemeriksa internasional melakukan investigasi terhadap dugaan adanya serangan senjata kimia dekat Damaskus. Isu senjata kimia telah menjadi alasan penyerangan negara-negara sekutu Amerika Serikat terhaedap Suriah.

Dilansir AFP, Senin (16/4/2018), investigasi itu dimulai pada Minggu (15/4) waktu setempat.

[Gambas:Video 20detik]




Presiden Rusia Vladimir Putin yang memimpin aliansi pro-Suriah memperingatkan bahwa serangan susulan bisa memicu kekacauan alias kaos. Namun Washington bersumpah bakal membri sanksi Moscow daripada melancarkan aksi militer susulan.

Misil AS, Prancis, dan Inggris telah menghancurkan kawasan ayng diduga menjadi tempat pembuatan dan penyimpanan senjata kimia. Serangan dilakukan pada Sabtu (14/4) waktu setempat. Namun bangunan-bangunan yang diserang pada umumnya kosong.

Presiden AS Donald Trump menyanjung serangan itu sebagai aksi yang "dilakukan dengan sempurna". Ini adalah serangan internasional terbesar terhadap rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad selama tujuh tahun perang. Namun baik Damaskus dan oposisi Suriah mengkritik serangan ini.



Satu tim ahli kimia dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia yang berbasis di The Hague, tiba di Damaskus beberapa jam setelah serangan. Mereka ditugasi menginvestigasi kawasan yang diduga diserang senjata kimia pada 7 April lampau, yakni di kota Douma, timur dari Damaskus.

Pihak Barat mengatakan serangan 7 April itu menggunakan senjata kimia yakni klorin dan sarin. Serangan itu menewaskan belasan orang.

Tim dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia itu tiba di Damaskus pada Sabtu (14/4) waktu setempat. Belum ada laporan apakah mereka sudah sampai Douma atau belum.



Tim pencari fakta ini biasa memulai investigasi dengan bertemu pejabat tinggi, namun pertemuan mereka biasanya digelar tertutup.

"Kami akan meyakinkan mereka bisa bekerja profesional, objektif, imparsial, dan bebas tekanan manapun," kata asisten Menteri Luar Negeri, Ayman Soussan, kepada AFP.

OPCW telah mendeklarasikan bahwa persediaan senjata kimia pemerintah Suriah sudah dilepas pada 2014. Namun pada 2017 ada serangan sarin di kota Khan Sheikhun.

Para pemeriksa akan menghadapi tugas berat. Karena pemain utama telah mengosongkan temuantemuannya, termasuk kekuatan Barat. Pihak Barat menyatakan bahwa serangan mereka didasari temuan bahwa senjata kimia memang digunakan pemerintah Suriah.

Ada pula kemungkinan bukti-bukti serangan kimia telah dibersihkan, atau kawasannya telah dikontrol oleh militer Rusia dan militer Suriah selama beberapa pekan belakangan.

"Kemungkinan akan selalu diperhitungkan, dan para pemeriksa akan melihat bahwa bukti telah dirusak," kata konsultan dan mantan anggota OPCW yang pernah bertugas ke Suriah, Ralf Trapp.


Video 20Detik: Suriah Jadi Arena Tempur Negara Lain

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed