Seperti dilansir AFP, Jumat (6/4/2018), unjuk rasa yang mirip seperti aksi pekan lalu, kembali digelar pada Jumat (6/4) waktu setempat di sepanjang perbatasan Gaza-Israel. Ratusan demonstran Palestina berkumpul di sejumlah titik, seperti area perbatasan sebelah timur dekat Khan Yunis, Gaza bagian selatan yang diblokade dan area sebelah timur Gaza City.
Laporan jurnalis AFP yang ada di lokasi menyebut, para demonstran Palestina membakar ban dan melemparkan batu ke arah tentara Israel yang berjaga di seberang pagar perbatasan. Aksi itu dibalas tembakan gas air mata dan peluru sungguhan oleh tentara Israel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah demonstran yang ikut aksi pada Jumat (6/4) ini dilaporkan lebih sedikit dari pekan lalu, yang mencapai puluhan ribu warga Palestina. Unjuk rasa pekan ini digelar setelah Salat Jumat digelar. Unjuk rasa ini masih menjadi bagian dari protes besar-besaran menuntut ditegakkannya hak-hak para pengungsi Palestina yang digusur usai terbentuknya Israel, yang menduduki wilayah Palestina.
Timbunan ban yang sengaja disusun akan dinyalakan selama unjuk rasa berlangsung. Hal ini diduga akan dijadikan oleh para demonstran sebagai 'tabir asap' dari penembak jitu Israel yang siaga. Tentara Israel yang berjaga di sisi Israel pada perbatasan, menyiapkan sebuah kipas angin raksasa setinggi 2 meter yang akan digunakan untuk menghalau asap dari demonstran Palestina.
"Ratusan warga Palestina telah memicu kerusuhan di lima lokasi sepanjang perbatasan dengan Jalur Gaza," sebut militer Israel dalam pernyataannya.
"Tentara-tentara (Israel) menanggapi dengan cara-cara pembubaran kerusuhan dan melepas tembakan sesuai dengan aturan pertempuran," imbuh pernyataan itu.
Namun Israel menuai kritikan atas penggunaan peluru sungguh dalam menghadapi aksi demonstran Palestina itu. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres menyerukan agar Israel lebih menahan diri.
"Secara khusus, saya mendesak Israel untuk mempraktikkan kehati-hatian luar biasa dalam penggunaan kekuatannya demi menghindari jatuhnya korban jiwa. Warga sipil harus diberi kesempatan mempraktikkan hak mereka untuk berunjuk rasa secara damai," imbau Guterres.
Sementara itu, seperti dilansir Reuters, jumlah warga Palestina yang tewas dalam unjuk rasa pekan lalu bertambah menjadi 20 orang. Pejabat Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan, satu orang yang mengalami luka-luka dalam demo pekan lalu, meninggal dunia di rumah sakit pekan ini.
(nvc/rna)











































