DetikNews
Sabtu 17 Maret 2018, 09:27 WIB

Australia Minta ASEAN Waspada Ancaman Teror Teknologi Tinggi

Novi Christiastuti - detikNews
Australia Minta ASEAN Waspada Ancaman Teror Teknologi Tinggi Ilustrasi (detikINET/Fino Yurio Kristo)
Sydney - Otoritas Australia memperingatkan negara-negara Asia Tenggara soal ancaman teror berteknologi tinggi. Australia menyebut penggunaan aplikasi pesan singkat terenkripsi untuk merencanakan serangan teroris sebagai ancaman terbesar bagi intelijen saat ini.

Dalam forum KTT ASEAN-Australia di Sydney, seperti dilansir AFP, Sabtu (17/3/2018), Menteri Dalam Negeri Australia, Peter Dutton, menyebut penggunaan 'jaringan internet gelap' oleh para ekstremis dan pelaku kejahatan merupakan persoalan yang meluas.

"Penggunaan aplikasi pesan terenkripsi oleh para teroris dan pelaku kriminal berpotensi menjadi kemunduran paling signifikan bagi kemampuan intelijen di era modern," ucap Dutton memperingatkan.


Di hadapan para pemimpin negara-negara Asia Tenggara, Dutton menegaskan hanya ada satu cara untuk mengatasi ancaman dan peningkatan penggunaan internet oleh kelompok radikal seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), yakni kebersamaan.

"Sementara negara-negara kita fokus menangkal ancaman terorisme yang muncul secara domestik, akan menjadi sebuah kesalahan untuk menangani persoalan ini dari perspektif nasional semata," ujarnya.

"Terorisme dan ekstremisme kekerasan melebihi perbatasan nasional. Menangkal ancaman memerlukan upaya regional yang bersatu dan kohesif dengan melibatkan koordinasi antara keamanan nasional dan lembaga penegak hukum masing-masing," imbuh Dutton.


Rencananya, sebuah memorandum atau MoU akan dirilis pada akhir KTT ASEAN-Australia pada Sabtu (17/3) waktu setempat. Dilaporkan akan ada kesepakatan untuk mengumpulkan sumber daya kepolisian dan intelijen siber di kawasan Asia Tenggara dan Australia untuk pertama kalinya.

Surat kabar The Australian melaporkan MoU itu akan mengatur pembentukan satuan tugas digital forensik dan kerangka kerja legislatif untuk mengatur proses peradilan para pelaku nantinya.

Otoritas Australia sebenarnya telah membantu negara-negara Asia Tenggara untuk memutus pendanaan teroris dan menangkal terorisme. Namun masalahnya kini meluas setelah kebanyakan militan ISIS terpaksa kabur dari Suriah dan Irak karena semakin terdesak.


Banyak militan yang memilih kembali ke negara masing-masing. Salah satu ancaman ISIS muncul di Marawi, Filipina sejak tahun lalu, ketika militan pro-ISIS berusaha menduduki kota itu untuk menjadikannya markas baru di Asia Tenggara. Australia membantu Filipina untuk merebut Marawi kembali.


(nvc/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed