DetikNews
Kamis 15 Februari 2018, 15:13 WIB

Wapres AS Akui Sengaja Abaikan Adik Kim Jong-Un Saat di Korsel

Novi Christiastuti - detikNews
Wapres AS Akui Sengaja Abaikan Adik Kim Jong-Un Saat di Korsel Mike Pence dan Kim Yo-Jong duduk berdekatan saat upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018 (Yonhap via REUTERS)
Washington DC - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence mengaku sengaja mengabaikan adik perempuan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un saat sama-sama menghadiri seremoni pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018 di Korea Selatan (Korsel), pekan lalu.

Saat upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018 digelar pada 9 Februari lalu, Pence duduk bersebelahan dengan Presiden Korsel Moon Jae-In dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Delegasi tinggi Korut termasuk Kim Yo-Jong, adik Kim Jong-Un, juga duduk di lokasi yang sama.

Tempat duduk Pence hanya beberapa meter jaraknya dengan Kim Yo-Jong, yang menjabat sebagai Wakil Direktur Departemen Propaganda dan Agitasi pada Partai Pekerja Korut. Dia hadir mendampingi Kim Yong-Nam yang merupakan pemimpin seremonial Korut.

"Saya yakin tidak tepat bagi Amerika Serikat untuk memberikan raut wajah atau perhatian apapun kepada seseorang yang tidak hanya saudari si diktator tapi juga pemimpin program propaganda," ucap Pence kepada situs media AS, Axios, seperti dilansir CNN, Kamis (15/2/2018).


Kim Yo-Jong adalah yang pertama dari Dinasti Kim yang berkuasa di Korut, yang menginjakkan kaki di Korsel sejak Perang Korea berakhir tahun 1953 silam. Dia mengunjungi Korsel selama tiga hari sejak 9 Februari lalu dan kini telah kembali ke Korut.

Disebutkan Pence , berbagai pelanggaran HAM yang diduga dilakukan Korut, menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada keputusannya mengabaikan Kim Yo-Jong. Pelanggaran HAM yang dimaksud adalah banyaknya tahanan politik yang diperkirakan jumlahnya mencapai 100 ribu orang, kemudian eksekusi mati Jang Song-Thaek yang merupakan paman Kim Jong-Un dan pembunuhan Kim Jong-Nam, kakak tiri Kim Jong-Un.

Diketahui bahwa Kim Jong-Nam tewas beberapa menit setelah terpapar racun mematikan VX di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, tahun lalu. Diplomat Korut di Malaysia telah menyangkal tudingan pihaknya terlibat kematian itu.

"Ini adalah kejahatan yang telah kita saksikan secara langka di masa-masa kita ini dan saya ingin menunjukkan pesan sangat jelas melalui kebungkaman saya, bahwa rakyat Amerika Serikat tahu siapa yang kita hadapi dan bahwa kita akan terus berdiri teguh dan berdiri kuat dengan tekad dan bersama sekutu-sekutu kita hingga rezim Korea Utara berhenti mengancam negara kita dan sekutu kita dengan nuklir dan rudal balistik," ucapnya.


"Kita akan terus meminta mereka bertanggung kawab atas catatan mengerikan pelanggaran hak-hak asasi rakyat mereka sendiri," imbuh Pence.

Pence juga menegaskan bahwa kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap program senjata Korut adalah memberi tekanan ekonomi dan diplomatik seberat mungkin ke rezim komunis itu, hingga Korut meninggalkan program nuklir dan rudal balistiknya.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed