Seperti dilansir Reuters, Jumat (9/2/2018), pesan untuk Israel itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan surat kabar konservatif Israel, Israel Hayom, yang artikelnya akan diterbitkan secara penuh pada Minggu (11/2) besok lusa. Artikel akan diterbitkan dalam bahasa Ibrani.
Dalam wawancara itu, Trump juga menyatakan Israel dan Palestina harus saling berkompromi demi mewujudkan perdamaian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir kedua pihak harus melakukan kompromi signifikan demi mencapai kesepakatan damai," imbuh Trump merujuk pada Israel dan Palestina. Trump tidak menjelaskan lebih lanjut perkataannya itu.
Kepada Israel Hayom, Trump menyebut momen mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan 'titik tertinggi' dalam setahun terakhir dirinya menjabat Presiden AS.
Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang disampaikan Trump pada 6 Desember 2017 memancing kemarahan global. Langkah itu jelas bertolak belakang dengan kebijakan luar negara AS semasa pemerintahan sebelumnya yang tidak bersuara lantang soal status Yerusalem.
Meski mengakui Yerusalem, Trump menyatakan AS masih berkomitmen pada perdamaian Israel dan Palestina. Bahkan AS menawarkan diri menjadi penengah dalam upaya baru memulihkan perundingan damai yang terhenti. Tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Otoritas Palestina.
Para pengamat menilai, bahasa yang digunakan Trump saat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel saat itu, sebenarnya tidak mengesampingkan opsi Yerusalem untuk Palestina. Selama ini Palestina menginginkan Yerusalem Timur menjadi ibu kota masa depan bagi mereka.
Namun Yerusalem Timur diduduki dan dicaplok Israel dalam perang tahun 1967 silam. Israel juga menyatakan Yerusalem secara keseluruhan sebagai ibu kota abadi dan tak terbagi. Langkah Israel ini tidak diakui oleh dunia internasional.










































