Duta Besar Korut untuk PBB, Han Tae Song, meminta AS untuk menghentikan secara permanen latihan militer gabungan dengan Korea Selatan (Korsel). Latihan gabungan itu sendiri telah dihentikan sementara, selama Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang digelar mulai 9 Februari mendatang.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Rabu (24/1/2018), Han menuding militer AS terlibat dalam 'manuver militer berbahaya' dengan mengerahkan aset-aset strategis di dekat Semenanjung Korea menjelang pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Han menyatakan Korut memiliki pertahanan nuklir yang 'kuat dan mampu diandalkan' dalam menangkal serangan apapun. Menurut Han, uji coba nuklir tahun lalu membuat negaranya mampu 'menyempurnakan kekuatan nuklir nasional' dengan cara yang transparan dan aman.
"Dengan demikian DPRK akhirnya memiliki penangkal perang yang kuat dan mampu diandalkan, yang tidak bisa dikalahkan kekuatan apapun," tegas Han, merujuk pada nama resmi Korut, yakni Republik Demokratik Rakyat Korea.
"Saya dengan bangga menyatakan bahwa kekuatan nuklir DPRK mampu membuat frustrasi dan melawan setiap ancaman nuklir dari AS dan mampu menjadi penangkal kuat yang mencegah AS memulai perang," imbuhnya. Han menambahkan, sebagai negara 'kekuatan nuklir yang bertanggung jawab', Korut tidak akan mulai menggunakan senjata nuklir kecuali kedaulatan atau kepentingannya dilanggar.
Duta Besar AS untuk Konferensi Perlucutan Senjata, Robert Wood langsung menanggapi Han dengan menegaskan AS tidak akan pernah mengakui Korut sebagai negara nuklir. "Amerika Serikat tidak akan mengakui Korea Utara sebagai negara dengan senjata nuklir," tegasnya.
"Jika Korea Utara ingin kembali dan berada di dalam kebaikan komunitas internasional, mereka tahu apa yang harus dilakukan, mereka harus mengambil langkah menuju denuklirisasi Semenanjung Korea," ucap Wood.
"Tekanan internasional terhadap Korea Utara sangat dalam, intens dan akan terus berlanjut," imbuhnya.
(nvc/ita)











































