Crooks yang kini berusia 34 tahun, mengungkapkan kisah yang dialaminya pada Oktober 2016 lalu. Kisahnya saat itu diulas oleh media ternama AS, New York Times (NYT). Pekan ini, dia kembali mengungkapkannya pada sejumlah media AS dalam upaya meminta Kongres AS menyelidiki Trump.
Seperti dikutip dari NYT dan Business Insider, Rabu (13/12/2017), tindak pelecehan seksual ini dialami Crooks pada tahun 2005, saat dia bekerja sebagai resepsionis untuk perusahaan real estate, Bayrock Capital, yang berkantor di Trump Tower, Manhattan. Saat itu Crooks masih berusia 22 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Crooks mengisahkan, insiden ini terjadi saat dirinya berpapasan dengan Trump di luar lift yang ada di gedung Trump Tower. Berusaha bersikap sopan, Crooks memperkenalkan diri kepada Trump dan menjabat tangannya, namun Trump tidak melepas tangannya dengan segera.
Dituturkan Crooks, saat itu Trump malah menciumnya di pipi dan kemudian tiba-tiba mencium bibirnya. "Dia mencium saya langsung di mulut. Itu sungguh tidak pantas. Saya sangat kesal karena dia pikir saya bukan siapa-siapa sehingga dia melakukan itu," ucapnya.
Trump muncul di kantor Crooks beberapa hari usai insiden itu dan meminta nomor teleponnya. Saat Crooks menanyai alasannya, Trump menjawab nomor itu akan diserahkan pada agensi modeling miliknya.
Crooks akhirnya memberikan nomor teleponnya dengan alasan menjaga hubungan baik antara Trump dengan perusahaannya, Bayrock Group. Namun, lanjut Crooks, agensi modeling tidak pernah menghubunginya. Selama masih bekerja di Bayrock, Crooks selalu menghindar setiap kali melihat Trump dan bahkan tidak ikut acara liburan bersama Trump Organization demi menghindari Trump.
Crooks tidak pernah melaporkan insiden itu pada pihak berwenang maupun kepada perusahaannya karena takut kehilangan pekerjaannya. Namun dia menceritakannya kepada teman dan keluarganya. "Saya terguncang," kata Crooks. "Hati saya tercabik-cabik," imbuhnya.
"Saya ingat bersembunyi di kantor bos saya karena tidak ada siapapun di sana, saat itu pagi-pagi sekali, dan saya menelepon saudara perempuan saya ... Saya merasa buruk," ujar Crooks.
Crooks merupakan salah satu dari 16 wanita yang pengakuannya didokumentasikan dalam film dokumenter pendek berjudul '16 Women and Donald Trump' yang diproduksi Brave New Films, rumah produksi non-profit. Tiga wanita di antaranya, termasuk Crooks muncul langsung di depan publik dalam konferensi pers di New York pada Senin (11/12) waktu setempat.
(nvc/ita)










































