Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qassemi menyampaikan hal tersebut pada konferensi pers pada Minggu (29/10) waktu setempat, saat dirinya ditanya apakah Trump pernah meminta bertemua dengan presiden Iran saat berada di New York.
"Pertemuan tersebut diusulkan oleh pihak Amerika, namun tidak diterima oleh Presiden Hassan Rouhani," kata Qassemi seperti dilansir media Iran, Press TV, Senin (30/10/2017).
Kontak tingkat tertinggi antara kedua negara tersebut dalam beberapa dekade adalah pada tahun 2013, ketika Rouhani melakukan percakapan via telepon dengan mantan Presiden AS Barack Obama.
Hubungan AS dan Iran kembali memanas sejak Trump dilantik menjadi presiden. Terlebih setelah Trump mencabut dukungan terhadap kesepakatan nuklir dengan Iran. Trump menyebut kesepakatan itu sangat merugikan AS.
Kesepakatan yang dicapai pada tahun 2015, pada era pemerintahan Presiden Obama itu diyakini menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan ambisi nuklir Iran. Dalam kesepakatan itu, Iran setuju membatasi program nuklirnya, sebagai balasan atas dicabutnya sanksi-sanksi yang diterapkan terhadap mereka.
Meski Trump mencabut dukungannya dan mengancam akan menghapuskan kesepakatan itu, Rouhani menegaskan pihaknya tetap berkomitmen menjalankan kesepakatan bernama Rencana Aksi Menyeluruh Gabungan (JCPoA) itu. "Kami menghormati JCPoA... selama kesepakatan itu masih sejalan dengan hak dan kepentingan nasional kami," ujarnya.
"Bangsa Iran tidak akan pernah tunduk pada tekanan asing dari mana pun. Iran dan kesepakatan itu jauh lebih kuat dari sebelumnya," tegas Rouhani. (ita/ita)











































