Erdogan Telepon Raja Salman, Bahas Penyelesaian Krisis Qatar

Erdogan Telepon Raja Salman, Bahas Penyelesaian Krisis Qatar

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 22 Jun 2017 16:13 WIB
Erdogan Telepon Raja Salman, Bahas Penyelesaian Krisis Qatar
Recep Tayyip Erdogan (REUTERS/Umit Bektas)
Ankara - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud membahas krisis Qatar via telepon. Keduanya sepakat meningkatkan upaya-upaya untuk mengakhiri krisis Qatar yang memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Dituturkan sejumlah sumber dari kantor Presiden Turki, seperti dilansir Reuters, Kamis (22/6/2017), percakapan via telepon itu dilakukan Erdogan pada Rabu (21/6) malam waktu setempat. Kedua pihak menekankan tekad untuk memperkuat hubungan Turki-Saudi.

"Kesepakatan tercapai untuk meningkatkan upaya dalam mengakhiri ketegangan di kawasan, terkait Qatar," sebut sumber itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Erdogan dan Raja Salman sepakat untuk menggelar pertemuan empat mata di sela-sela KTT G20 yang akan digelar di Hamburg, Jerman, bulan depan.

Dalam percakapan telepon itu, Erdogan juga mengucapkan selamat kepada Pangeran Mohammed bin Salman yang baru diangkat menjadi Putra Mahkota Saudi yang baru. Pangeran Mohammed sendiri dilibatkan dalam pembahasan krisis Qatar antara Erdogan dan Raja Salman.

Raja Salman mengangkat putranya sendiri, Pangeran Mohammed bin Salman, yang baru berusia 32 tahun menjadi Putra Mahkota pada Rabu (21/6) melalui dekrit kerajaan. Sosok dan kiprah Pangeran Mohammed cukup menonjol dibanding pangeran-pangeran Saudi lain.


Sementara itu, terkait krisis Qatar, Turki menawarkan dukungan kuat untuk Qatar, setelah Saudi dan sekutunya seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir serentak memutuskan hubungan diplomatik pada awal Juni lalu. Saudi cs menuding Qatar mendukung terorisme dan agenda Iran, musuh abadi Saudi.

Beberapa waktu lalu, Erdogan mengecam pengucilan Qatar dengan menyebutnya sebagai tindakan yang 'tidak manusiawi dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam'. Turki berusaha memposisikan diri sebagai penengah dalam krisis ini.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads