Arab Saudi Cs Putuskan Hubungan dengan Qatar, Turki Sedih

Arab Saudi Cs Putuskan Hubungan dengan Qatar, Turki Sedih

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 05 Jun 2017 18:32 WIB
Arab Saudi Cs Putuskan Hubungan dengan Qatar, Turki Sedih
Ilustrasi (REUTERS/Thomas White/Illustration)
Ankara - Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu merasa sedih atas keretakan hubungan antara negara-negara Teluk Arab dengan Qatar. Cavusoglu menyerukan negara-negara itu melakukan dialog untuk menyelesaikan perselisihan.

"Kita melihat stabilitas di kawasan Teluk sebagai persatuan dan solidaritas kita sendiri," ucap Cavusoglu dalam konferensi pers, seperti dilansir Reuters, Senin (5/6/2017).

"Setiap negara mungkin memiliki masalah, tapi dialog harus berlanjut di bawah situasi apapun agar persoalan bisa diselesaikan secara damai. Kami merasa sedih atas situasi saat ini dan akan memberikan dukungan apapun bagi normalisasi hubungan," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Tuduh Qatar Dukung Houthi, Yaman Juga Putuskan Hubungan

Pernyataan ini disampaikan Cavusoglu setelah Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab (UAE), Mesir dan Yaman memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada Senin (5/6) waktu setempat. Negara-negara itu menuding Qatar mendukung terorisme dan mencampuri urusan dalam negeri mereka.

Qatar juga dituding mendukung agenda Iran, yang jelas menjadi musuh utama Saudi.

Dalam tanggapannya, pemerintah Qatar menyesalkan keputusan serentak Saudi cs tersebut. "Langkah-langkah tersebut tidak dibenarkan dan didasarkan pada klaim dan tuduhan yang sebenarnya tidak memiliki dasar," demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Qatar seperti dikutip Al-Jazeera TV yang berbasis di Qatar.

Baca juga: Iran: Putus Hubungan dengan Qatar Bukan Solusi Krisis

Qatar menyatakan, pemutusan hubungan itu tidak akan mempengaruhi kehidupan normal warga negara dan penduduknya. Namun setiap warga Qatar yang ada di negara yang memutuskan hubungan diplomatik, diberi waktu 14 hari untuk meninggalkan negara tersebut.

Dalam pernyataannya, otoritas Qatar menyebut pihaknya tengah menghadapi kampanye kebohongan dan rekayasa. "Kampanye penghasutan ini didasarkan pada kebohongan-kebohongan yang telah mencapai tingkat rekayasa penuh," demikian pernyataan itu.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads