DetikNews
Jumat 19 Mei 2017, 19:55 WIB

Larangan Merokok di Tempat Umum Disambut Baik Warga Filipina

Novi Christiastuti - detikNews
Larangan Merokok di Tempat Umum Disambut Baik Warga Filipina Ilustrasi (Thinkstock)
Manila - Larangan merokok di tempat umum yang diberlakukan Presiden Filipina Rodrigo Duterte mendapat sambutan baik. Beberapa perokok di Filipina mengaku siap berhenti merokok setelah mengetahui ancaman hukuman dan denda besar yang menyertai larangan itu.

Bahkan kelompok lobi industri, Institut Tembakau Filipina (PTI), menyatakan mendukung aturan baru itu dan mengakui tujuan-tujuan kesehatan di balik aturan itu. Demikian seperti dilansir Reuters, Jumat (19/5/2017).

Pekan ini, Duterte menandatangani perintah eksekutif yang sebenarnya sudah dirancang sejak tahun lalu, namun molor karena perlawanan korporasi. Perintah eksekutif itu mengatur panduan ketat untuk area khusus merokok serta iklan rokok, termasuk larangan merokok di area publik.

Saham produsen rokok ternama Filipina, LT Group Inc, anjlok sebanyak 4,4 persen usai berita larangan merokok itu dipublikasi media setempat. Sedangkan aktivitas antitembakau setempat menyebut penerapan larangan merokok di area publik itu sebagai 'kemenangan'. Aturan hukum itu baru akan berlaku sekitar 60 hari setelah dipublikasi oleh surat kabar setempat.

"Ini kemenangan bagi kita. (Perintah) Ini menyoroti perlunya melindungi orang-orang dari paparan keras pada perokok pasif," ucap Maricar Limpin selaku Direktur Eksekutif Action on Smoking and Health Philippines.

Baca juga: Duterte Perintahkan Larangan Merokok di Tempat Umum

Perintah eksekutif Duterte itu memberlakukan 'larangan total' merokok di sekolah, pom bensin, rumah sakit, area penyiapan makanan dan tangga darurat. Larangan juga berlaku untuk penjualan, distribusi dan pembelian produk tembakau dari dan untuk anak di bawah umur. Iklan serta promosi rokok juga akan dibatasi di bawah aturan hukum baru.

Menteri Kesehatan Filipina, Paulyn Jean Rosell-Ubial, menyatakan optimisme bahwa larangan ini akan mendorong orang-orang untuk berhenti merokok. Dia menyebut, lebih dari setengah juta warga Filipina berhenti merokok antara tahun 2010-2015, jumlah pengurangan terbesar di dunia.

"Tahun 2020 nanti, ketika kita melakukan survei selanjutnya, kita mengharapkan jumlah yang nyaris sama atau bahkan lebih tinggi," tuturnya kepada CNN Philippines.

Jojo Primivida (48) yang berprofesi sebagai kurir dan merupakan bapak dari 6 anak, menyatakan dirinya siap berhenti merokok setelah menyadari aturan yang tegas dan ancaman hukumannya. "Saya tahu saya bisa melakukannya (berhenti merokok). Saya seorang perokok berat sebelumnya, tapi sekarang saya merokok hanya setelah makan," ucapnya.

Pekerja kantoran, Jobell Lisana, mengaku telah merokok sejak sekolah, tapi dengan adanya aturan baru ini dia siap berhenti. "Berhenti (merokok) jauh lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, tapi mungkin saya akan berhenti karena sekarang ada denda dan hukumannya," ujarnya.

Kelompok lobi industri, Institut Tembakau Filipina (PTI), menyatakan sepakat dengan aturan baru itu. "Kami selalu mendukung regulasi soal merokok di tempat umum seperti diatur di bawah hukum nasional termasuk penetapan area khusus merokok," demikian pernyataan PTI yang mewakili perusahaan rokok seperti Philip Morris Philippines Manufacturing Inc, Fortune Tobacco Corp, British American Tobacco, JT International (Philippines) Inc, dan sebagainya.


(nvc/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed