"Saya telah memerintahkan pengiriman 2.000 tentara dan 600 personel pasukan operasi khusus ke negara bagian Tachira yang berbatasan dengan Kolombia," kata Menteri Pertahanan (Menhan) Vladimir Padrino Lopez di stasiun televisi VTV seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (18/5/2017).
Dikatakannya, Presiden Nicolas Maduro telah memerintahkan pengerahan pasukan tersebut setelah kekerasan meningkat di San Cristobal, ibukota negara bagian Tachira dan kota-kota lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Rabu (17/5) waktu setempat, sekitar 20 tempat usaha di Tachira dijarah, dua kantor polisi dibakar dan sebuah pos militer diserang dengan bom rakitan, yang menyebabkan seorang seorang komandan militer terluka.
Sejak 1 April lalu, bentrokan antara para demonstran antipemerintah dengan aparat keamanan telah menewaskan 42 orang. Para demonstran menyalahkan Maduro atas krisis ekonomi yang telah memicu kekurangan pangan dan obat-obatan. Massa menuntut Maduro mundur dan pemilihan umum digelar lebih awal.
Pemerintahan Maduro menuding oposisi merencanakan kudeta dengan dukungan Amerika Serikat.
"Kita tak bisa menyebut ini demonstrasi. Ini tindakan subversif," ujar Lopez.
Menhan Venezuela itu menuduh oposisi mencoba memicu perang saudara dan ingin mengubah Venezuela menjadi seperti Suriah.
"Kita tak akan membiarkan tanah air jatuh dalam kekacauan," tegasnya. (ita/ita)











































