Seperti dilansir AFP, Jumat (28/4/2017), Assad menyebut otoritas Suriah sedang berunding dengan rezim Rusia soal rencana pembelian itu. Rusia sendiri selama ini menjadi sekutu dekat rezim Assad dalam konflik Suriah yang berlangsung sejak tahun 2011.
"Sungguh wajar jika kita harus memiliki sistem semacam itu," ucap Assad seperti dikutip kantor berita resmi Suriah, SANA, pada Kamis (27/4) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan ini disampaikan pada hari yang sama saat Suriah menuding Israel menembakkan beberapa rudal ke posisi militer Suriah, dekat bandara internasionalnya. "Israel telah melakukan agresi terhadap negara-negara Arab di sekitarnya sejak berdiri tahun 1948," ucap Assad dalam wawancara dengan televisi Venezuela, Telesur.
"Sungguh wajar bagi kami untuk berunding dengan pihak Rusia sekarang, dengan pandangan untuk memperkuat sistem (kami), apakah untuk menghadap setiap ancaman Israel di udara atau ancaman rudal Amerika," tegas Assad.
"Itu telah menjadi kemungkinan yang nyata setelah agresi Amerika baru-baru ini terhadap pangkalan udara Al-Shayrat di Suriah," imbuhnya.
Baca juga: Militer Israel Menembak Jatuh 'Target' di Dataran Tinggi Golan
Pada 6-7 April, militer AS menembakkan 59 rudal Tomahawk ke pangkalan udara Al-Shayrat. Aksi militer AS itu menanggapi serangan kimia di Idlib yang menewaskan 87 orang, termasuk puluhan anak-anak, diyakini didalangi oleh rezim Assad. AS menyebut, pangkalan udara itu menjadi lokasi berangkat pesawat-pesawat tempur Suriah yang melancarkan serangan kimia.
Sehari usai serangan AS itu, militer Rusia menyatakan pertahanan udara Suriah akan ditingkatkan. "Untuk melindungi infrastruktur paling sensitif Suriah, sejumlah langkah akan diterapkan di masa mendatang untuk memperkuat dan meningkatkan efektivitas sistem pertahanan udara militer Suriah," tegas juru bicara militer Rusia, Igor Konashenkov.
(nvc/try)











































