DetikNews
Jumat 21 April 2017, 13:49 WIB

Capres Prancis Batalkan Kampanye Usai Penembakan Champs Elysees

Novi Christiastuti - detikNews
Capres Prancis Batalkan Kampanye Usai Penembakan Champs Elysees Situasi di lokasi penembakan di Champs Elysees, Paris (Benjamin Cremel/AFP)
Paris - Penembakan di boulevard Champs Elysees, Paris, Prancis terjadi menjelang digelarnya pemilihan presiden (pilpres). Penembakan ini jelas mengganggu jadwal kampanye para calon presiden (capres) Prancis.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (21/4/2017), pemungutan suara untuk putaran pertama akan digelar pada Minggu (23/4) besok. Pilpres Prancis kali ini disebut sebagai yang paling tidak bisa diprediksi karena selisih suara dalam polling antara empat kandidat terdepan sangat tipis.

Dua kandidat yang meraih suara terbanyak akan melanjutkan pertarungan pada putaran kedua yang digelar 7 Mei mendatang. Setidaknya ada 11 kandidat yang akan bertarung dalam pilpres besok lusa.

Baca juga: Pelaku Penembakan Champs Elysees Masuk Radar Intelijen Prancis

Pada Kamis (20/4) malam waktu setempat, atau dua hari sebelum pilpres digelar, penembakan terjadi di boulevard ternama Champs Elysees yang ramai orang. Satu polisi tewas tertembak dan dua orang lainnya luka-luka. Kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas penembakan ini.

Penembakan ini terjadi saat para capres sedang sibuk tampil di televisi untuk mengkampanyekan program mereka dan menarik dukungan para pemilih. Beberapa kandidat capres kemudian mempertimbangkan apakah kampanye yang tinggal satu hari lagi, harus dihentikan seluruhnya usai penembakan ini. Sejumlah capres memutuskan langsung membatalkan kampanye pada Jumat (21/4) waktu setempat.

"Dalam konteks terbaru, tidak ada alasan untuk melanjutkan kampanye. Kita harus menunjukkan solidaritas kita dengan kepolisian," tutur kandidat konservatif, Francois Fillon, kepada televisi France 2.

Baca juga: Kepanikan Warga dan Turis Asing Saat Penembakan di Champs Elysees

Fillon yang mewakili Partai Republikan ini mengatakan dirinya akan membatalkan jadwal kunjungan ke Alpen, pada Jumat (21/4) waktu setempat. Ditegaskan Fillon bahwa perjuangan melawan 'totaliterisme Islamis' harus menjadi prioritas Presiden Prancis selanjutnya.

Kandidat sayap kiri, Jean-Luc Melenchon, dari gerakan politik Unsubmissive France menyerukan para capres untuk tidak tunduk pada kekerasan. "Selama kita menunggu informasi lebih jelas, saya pikir kita perlu menjalankan tugas sebagai warga negara: tidak panik, kita tidak seharusnya mengganggu proses demokrasi kita," ucapnya.

Kandidat lainnya, Marine Le Pen dari Partai Front Nasional, memberikan reaksi keras terhadap penembakan ini. "Saya tidak ingin kita terbiasa pada terorisme Islamis. Kita harus berhenti menjadi naif. Kita tidak bisa meninggalkan anak-anak kita di negara yang tidak bisa membela mereka," tegas Le Pen yang dikenal antiimigrasi dan anti-Uni Eropa.

Baca juga: Trump Sebut Penembakan di Champs Elysees Seperti Serangan Teroris

Sedangkan kandidat capres Emmanuel Macron dalam komentarnya pada Kamis (20/4) malam mengatakan tugas nomor satu seorang presiden adalah melindungi rakyatnya.

Le Pen dan Macron menempati posisi teratas dalam berbagai polling. Keduanya diprediksi akan saling berhadapan dengan selisih suara tipis dalam pilpres nantinya. Polling terbaru Harris Interactive, seperti dikutip Reuters, menunjukkan Macron meraup 24,5 persen suara yang diikuti Le Pen dengan 21 persen suara. Dua kandidat teratas lainnya, Fillon dan Melenchon meraup masing-masing 20 persen dan 19 persen suara dalam polling.


(nvc/try)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed