"Serangan Amerika Serikat bisa dipahami melihat pada dimensi kejahatan perang, melihat pada penderitaan orang-orang tak bersalah, dan melihat pada blokade di Dewan Keamanan PBB," ucap Merkel dalam pernyataannya seperti dilansir Reuters, Jumat (7/4/2017).
Lebih lanjut, Merkel menyebut serangan AS itu sebagai 'terbatas dan terarah'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedikitnya 59 rudal jelajah Tomahawk ditembakkan AS dari dua kapal perang AS, USS Porter dan USS Ross, yang siaga di Laut Mediterania bagian timur. Rudal-rudal itu ditembakkan secara terarah pada pesawat tempur, landasan udara dan pusat pengisian bahan bakar di pangkalan udara Shayrat.
AS menyebut aksi militer itu menanggapi serangan kimia di Khan Sheikhun, Provinsi Idlib, yang menewaskan puluhan orang pada Selasa (4/4). Dalam pernyataannya, seperti dilansir CNN, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson menegaskan AS memiliki 'keyakinan sangat tinggi' bahwa rezim Suriah mendalangi setidaknya tiga serangan menggunakan Sarin dan gas saraf, termasuk pada Selasa (4/4) di Khan Sheikhun.
Pentagon bahkan menunjukkan citra satelit hasil pelacakan radar yang menunjukkan sebuah pesawat tempur Suriah meninggalkan pangkalan udara Shayrat dan mengudara ke area Khan Sheikhun yang menjadi lokasi serangan kimia pada Selasa (4/4) waktu setempat.
Baca juga: Suriah: AS Berdalih Serangan Kimia Tanpa Tahu yang Sebenarnya
Dukungan untuk keputusan Presiden AS Donald Trump juga datang dari dua pejabat tinggi Uni Eropa. Ketua Uni Eropa Donald Tusk dan Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, yang selama ini mengkritik Trump, kini menyampaikan dukungan.
"Serangan AS menunjukkan apa yang dibutuhkan untuk melawan serangan kimia biadab. Uni Eropa akan bekerja bersama AS untuk mengakhiri kebrutalan di Suriah," tegas Tusk via Twitter.
Sedangkan Juncker menyatakan, dirinya memahami serangan itu sebagai upaya untuk menangkal serangan kimia lebih lanjut di Suriah. "AS telah memberitahu Uni Eropa terlebih daulu bahwa serangan ini terbatas dan bertujuan menangkal kekejian senjata kimia di masa mendatang. Penggunaan senjata semacam itu secara berulang harus dijawab," ucapnya.
"Ada perbedaan jelas antara serangan udara terhadap target militer dan penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil," imbuh Juncker.
Baca juga: Ini yang Kita Tahu Mengenai Serangan Rudal AS ke Suriah
Selain Jerman dan Uni Eropa, negara-negara Barat seperti Inggris, Prancis, Australia juga Turki, Arab Saudi dan Israel menyatakan dukungan untuk AS. Sedangkan Rusia dan Iran, sekutu Suriah, mengecam keras serangan rudal AS tersebut.
(nvc/imk)











































