Myanmar Gelar Pemilu Isi Kekosongan 19 Kursi Parlemen

Myanmar Gelar Pemilu Isi Kekosongan 19 Kursi Parlemen

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 01 Apr 2017 14:59 WIB
Myanmar Gelar Pemilu Isi Kekosongan 19 Kursi Parlemen
Warga Myanmar mendapat tanda tinta di jari usai menggunakan hak pilihnya (AFP PHOTO/Ye Aung THU)
Yangon - Warga Myanmar mengikuti pemungutan suara untuk pemilu parlemen, khusus untuk mengisi kekosongan kursi. Pemilu ini merupakan yang pertama digelar sejak Aung San Suu Kyi memimpin Myanmar.

Pemilu ini disebut sebagai by-election, yakni pemilu untuk mengisi kekosongan kursi parlemen yang pemiliknya ditunjuk menjadi anggota kabinet atau meninggal dunia. Ada 19 kursi parlemen nasional maupun daerah yang akan diperebutkan dalam pemilu ini.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Sabtu (1/4/2017), partai yang menaungi Suu Kyi, Liga Nasional Demokrasi (NLD), berjuang untuk mendominasi dalam pemilu ini. Awal pekan ini, Suu Kyi mengaku memahami rasa frustrasi publik terhadap pembangunan dan reformasi yang berjalan lambat. Namun dia juga menegaskan kembali prioritas utamanya untuk mengakhiri konflik etnis, yang membuat Myanmar menjadi negara yang nyaris dilanda perang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga Myanmar menggunakan hak pilihnyaWarga Myanmar menggunakan hak pilihnya Foto: AFP PHOTO/Ye Aung THU

Hasil pemilu ini tidak akan mempengaruhi 'keseimbangan' dalam parlemen, yang didominasi NLD. Namun pemilu ini menjadi kesempatan pemerintah untuk meningkatkan popularitas, terlebih Suu Kyi banyak dihujani kritikan terkait krisis kemanusiaan di negara bagian Rakhine, yang menjadi tempat tinggal etnis minoritas muslim Rohingya. PBB menyebut tentara Myanmar memperkosa dan membunuh banyak warga Rohingya. Myanmar membantah tudingan PBB itu.

Ratusan warga terlihat mengantre di luar tempat pemungutan suara di pinggiran ibu kota Yangon, pada Sabtu (1/4) waktu setempat. Namun antrean itu tidak diwarnai kehebohan dan antusiasme seperti saat pemilu bersejarah tahun 2015.

Salah satu pemimpin NLD, Win Htein, menyatakan partainya menghadapi berbagai halangan dan persoalan dengan keberadaan kelompok bersenjata di negara bagian Shan. Pertempuran militer di kawasan itu terus ditingkatkan dalam beberapa bulan terakhir.

"Kami masih meningkatkan situasi di negara bagian Shan. Warga setempat tidak memahami bahasa Burma, jadi kami harus menerjemahkan kebijakan kami dalam bahasa Shan," terang Win Htein.

Warga Myanmar menggunakan hak pilihnyaWarga Myanmar menggunakan hak pilihnya Foto: AFP PHOTO/Ye Aung THU

Negara bagian Shan merupakan wilayah yang ada di sebelah barat Myanmar. Negara bagian ini berbatasan dengan China di bagian utara dan Laos di bagian timur, serta Thailand di bagian selatan. Wilayah ini menjadi tantangan tersendiri bagian pemerintahan Myanmar karena sulit dikendalikan.

Militer Myanmar terlibat bentrokan dengan kelompok pemberontak di berbagai wilayah, termasuk negara bagian Shan. Kelompok pemberontak di wilayah itu menolak untuk ikut serta dalam proses perdamaian yang dicetuskan Suu Kyi. Sejumlah konflik muncul kembali di Myanmar sejak Suu Kyi menjabat. Sedikitnya 160 ribu orang kehilangan tempat tinggal akibat konflik-konflik itu.

Dalam pemilu ini, lebih dari 2 juta pemilih bisa menggunakan hak suaranya. Kursi-kursi yang diperebutkan berasal dari delapan negara bagian dan wilayah. Sebagian besar kursi parlemen yang kosong dan diperebutkan dalam pemilu ini, ditinggal pemiliknya yang bergabung dengan kabinet Suu Kyi. Hasil pemilu ini akan diumumkan Komisi Pemilu Myanmar pada Sabtu (1/4) malam waktu setempat.

Warga mencelupkan jari ke tinta usai menggunakan hak pilihnyaWarga mencelupkan jari ke tinta usai menggunakan hak pilihnya Foto: AFP PHOTO/Ye Aung THU


(nvc/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads