Seperti dilansir Reuters, Kamis (16/3/2017), mosi tidak percaya ini diajukan oleh anggota parlemen atau setara DPR, Gary Alejano, yang menuduh Duterte dengan serangkaian pelanggaran yang masuk delik pemakzulan. Mulai dari konflik kepentingan, kemudian menutup-nutupi aset, terlibat pembunuhan di luar hukum hingga mengelola 'skuad kematian' selama 22 tahun semasa Duterte menjabat Wali Kota Davao.
"Pelanggaran konstitusi, terlibat penyuapan, pengkhianatan kepercayaan publik, gratifikasi dan korupsi, serta kejahatan tingkat tinggi lainnya," demikian tuduhan Alejano terhadap Duterte.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alejano menegaskan, tujuan dirinya mengajukan mosi ini untuk memberikan kesempatan pada rakyat Filipina untuk berjuang melawan presiden berkuasa yang tindakannya tidak bisa diterima. "Tujuan kita dengan mosi ini adalah untuk menjadi kendaraan bagi rakyat Filipina menyuarakan perlawanan dan berjuang melawan perilaku sewenang-wenang dan kejahatan Presiden Duterte," tegas Alejano dalam konferensi pers.
"Kita tahu ini perjuangan sulit ... tapi kita meyakini banyak orang akan mendukung ini," imbuhnya.
Upaya pemakzulan ini merupakan yang pertama kali diajukan anggota parlemen Filipina, sejak Duterte menjabat Presiden Filipina sekitar 8 bulan lalu. Duterte yang kontroversial memiliki banyak musuh, namun hanya sedikit yang berpengaruh. Perlawanan terhadapnya selalu datang dari kelompok yang sama. Berbagai tudingan pelanggaran hukum telah dilontarkan dan menarik perhatian media, namun tidak ada yang berdampak besar pada Duterte.
Baca juga: Wapres Filipina: Perang Antinarkoba Duterte Bikin Rakyat Putus Asa
Menanggapi upaya Alejano ini, pengacara Duterte, Salvador Panelo, menyebutnya sebagai 'propaganda hitam'. Panelo meyakini, upaya pemakzulan ini tidak akan berhasil. Sedangkan juru bicara kepresidenan Ernesto Abella menyebut langkah itu sebagai bagian dari plot untuk mengganggu pemerintahan Duterte.
"Ini tampaknya agak dramatis karena semuanya terlihat begitu terkoordinir pada tahap ini," sebutnya.
Di sisi lain, Alejano menyadari bahwa upayanya ini tidak akan memicu dampak besar. Namun dia berharap agar hal ini membuat rakyat, terutama kalangan gereja, akademisi dan rakyat yang tidak memilih Duterte, mengetahui bahwa mereka bisa menantang presiden.
(nvc/ita)










































