China Ancam Balik AS Soal Pelarangan Dekati Laut China Selatan

China Ancam Balik AS Soal Pelarangan Dekati Laut China Selatan

Nathania Riris Michico - detikNews
Sabtu, 14 Jan 2017 02:50 WIB
China Ancam Balik AS Soal Pelarangan Dekati Laut China Selatan
Foto: Reuters/Ritchie B. Tongo
Jakarta - Rex Tillerson yang dicalonkan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk posisi Menteri Luar Negeri (Menlu) menyatakan China dilarang mendekati pulau buatan yang dibangun di Laut China Selatan. Pernyataan Tillerson itu menuai respons dari warga China.

Dilansir Reuters, setelah menyatakan hal itu, sebuah tabloid berpengaruh yang dikelola oleh negara menyebut bahwa AS harus berperang apabila ingin memblokir akses China ke pulau-pulau di Laut China Selatan

"Memblokir akses China ke pulau-pulau di Laut China Selatan membuat AS harus 'berperang'," tulis Global Times, Jumat (13/1/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sidang konfirmasi atau semacam fif and proper test di hadapan Komisi Hubungan Internasional Senat AS pada Rabu (11/1) waktu setempat, Tillerson mengatakan ingin mengirim 'sinyal' ke China bahwa akses mereka ke pulau-pulau di Laut China Selatan yang disengketakan "tidak akan diizinkan".

"Amerika Serikat akan memiliki "upah perang skala besar" di laut China Selatan untuk mencegah akses China ke pulau-pulau itu," tulis Global Times.

Editorial itu juga menulis bahwa Tillerson, seorang pemimpin sekaligus mantan kepala eksekutif Exxon Mobil Corp itu menjilat untuk bisa menduduki kursi kabinet AS Presiden Terpilih Donald Trump melalui pernyataannya.

"Hal ini diduga bahwa ia hanya ingin menjilat dari senator dan meningkatkan peluangnya untuk dikonfirmasi dengan sengaja menunjukkan sikap keras terhadap China," katanya.

Sebelumnya, Tillerson mengatakan pembangunan di pulau harus berhenti. Dia juga melarang China mengakses pulau-pulau itu.

"Kita akan memberikan sinyal jelas kepada China bahwa, pertama, pembangunan pulau harus berhenti dan, kedua, Anda tidak diperbolehkan mengakses pulau-pulau itu," terang Tillerson seperti dilansir news.com.au dan Reuters, Jumat (13/1). (nth/idh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads