Lagi-lagi, Wanita AS Mengaku Pernah Jadi Korban Pelecehan Seks Trump

Lagi-lagi, Wanita AS Mengaku Pernah Jadi Korban Pelecehan Seks Trump

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 21 Okt 2016 15:33 WIB
Lagi-lagi, Wanita AS Mengaku Pernah Jadi Korban Pelecehan Seks Trump
Karena Virginia (AFP Photo/Jemal Countess)
New York - Satu lagi wanita muncul ke publik dan mengklaim menjadi korban pelecehan seksual oleh calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Donald Trump. Wanita ini menyebut Trump menyentuhnya secara tidak pantas dan melontarkan komentar cabul.

Seperti dilansir AFP, Jumat (21/10/2016), Karena Virginia (45) yang kini berprofesi sebagai instruktur yoga di New York, tampil dalam konferensi pers pada Kamis (20/10) waktu setempat, dengan didampingi pengacara ternama AS Gloria Allred. Virginia menyebut Trump melakukan tindakan tidak pantas kepadanya saat keduanya bertemu di kejuaraan tenis terbuka US Open tahun 1998.

Virginia yang membaca pernyataan tertulisnya ini, menyebut Trump mengarahkan telunjuk ke dirinya saat berbicara dengan sejumlah pria lainnya. "'Hei, lihat yang satu ini. Kita belum melihat yang satu ini sebelumnya. Lihat kaki itu.' Seolah seperti saya sebuah objek bukan manusia," ucap Virginia mengutip perkataan Trump saat itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Kembali Bantah Tudingan Pelecehan Seks, Donald Trump: Saya Adalah Korban

Virginia yang saat itu berusia 27 tahun, menyebut Trump menarik lengannya dan menyentuh payudaranya. "Anda tidak tahu siapa saya, Anda tidak tahu siapa saya?" ujar Virginia kembali mengutip perkataan Trump kepadanya saat itu.

"Saya merasa terintimidasi dan saya merasa tak berdaya," tuturnya, sembari menyebut dirinya merasa malu karena mengenakan rok pendek dan sepatu hak tinggi saat itu.

"Rasa malu itu tetap saya rasakan cukup lama," imbuh Virginia.

Baca juga: Donald Trump: Saya Akan Menerima Hasil Pilpres Jika Saya Menang

Pengacara Allred yang mendampingi Virginia, menyatakan kliennya saat ini belum berniat untuk mengajukan gugatan hukum. Menanggapi keterangan Virginia, tim kampanye Trump menyebutnya sebagai 'alat' untuk membantu capres Partai Demokrat Hillary Clinton memenangi pilpres November mendatang.

Skandal pelecehan seks Trump dalam pencapresan tahun ini mulai mencuat setelah rekaman video tahun 2005 diungkap The Washington Post pada 7 Oktober lalu. Dalam video itu, Trump membanggakan dirinya yang bisa mencium dan menyentuh wanita tanpa ditolak, bahkan dia mengucapkan kata-kata cabul.

Usai video itu diungkap, sembilan wanita muncul ke publik dan menuding Trump melakukan tindakan cabul juga pelecehan seksual terhadap mereka. Virginia sendiri merupakan wanita ke-10 yang menuding Trump.

Baca juga: Trump Lontarkan Lelucon Kasar ke Hillary Saat Acara Makan Malam Amal

Trump sendiri berulang kali menyangkal tudingan-tudingan itu, dengan menyebutnya 'fiksi' dan bahkan menuduh Hillary yang mendalanginya. "Tidak pernah ada yang meminta saya muncul ke publik. Faktanya, banyak orang yang menyarankan kepada saya untuk tidak berbicara ke publik," tandas Virginia dalam konferensi pers itu.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads