Pekan lalu, kedua polisi Palestina itu tewas ditembak di kota Nablus, Tepi Barat, oleh sekelompok pria bersenjata yang dipimpin oleh Halawa. Dua pria bersenjata di antaranya tewas dalam baku tembak. Sedangkan Halawa ditangkap polisi pada hari yang sama dan dijebloskan ke penjara Jneid di Nablus. Motif penembakan itu tidak diketahui pasti.
Gubernur Nablus, Akram Rajub, menuturkan kepada kantor berita Palestina, WAFA dan dilansir AFP, Selasa (23/8/2016), bahwa Halawa dipukuli secara parah oleh personel keamanan di dalam tahanan. Dia kehilangan kesadaran dan kemudian dinyatakan tewas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rajub menegaskan, insiden kekerasan ini akan diselidiki lebih lanjut. "Kami akan menyelidiki insiden ini dan mengambil pelajaran darinya," tegas Rajub.
Hamas yang menguasai Jalur Gaza dan musuh berat Fatah yang mendominasi Otoritas Palestina di Tepi Barat, mengecam keras kematian Halawa itu. "Itu menunjukkan kekejaman pasukan keamanan Otoritas Palestina," sebut Hamas.
Sedangkan organisasi HAM, Amnesty International, menuding pasukan keamanan Palestina kerap memperlakukan para tahanan secara tak layak, dengan penyiksaan dan tidak pernah ditindak secara hukum.
Baca juga: Turki Kecam Keras Israel Atas Serangan Udara ke Gaza
Di bawah perjanjian Oslo tahun 1993 dengan Israel, kepolisian Palestina hanya berwenang untuk beroperasi di sekitar 18 persen area Tepi Barat, termasuk Nablus. Wilayah Tepi Barat bagian utara banyak menjadi lokasi penggerebekan polisi Palestina, dalam beberapa bulan terakhir. Area itu juga menjadi pertempuran faksi di dalam tubuh Fatah.
(nvc/nwk)










































