Dilansir dari AFP, Jumat (12/8/2016), Narendra berjanji akan mendengarkan keluhan dari mereka yang tinggal di sana (Lembah Kashmir). Hal itu diungkapkan melalui sebuah pernyataan setelah pertemuan dengan partai politik nasional untuk menemukan cara dalam mengakhiri kekerasan yang berlangsung di negara itu.
"Akar penyebab kerusuhan di Kashmir adalah terorisme lintas perbatasan yang didorong oleh negara tetangga kita," kata partai utama nasionalis sayap kanan Hindu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Kashmir di India berada dalam peraturan jam malam sejak protes meletus. Protes tersebut akibat kematian seorang pemimpin pemberontak muda yang populer bernama Burhan Wani dalam baku tembak dengan pasukan keamanan bulan lalu.
Lebih dari 50 warga sipil telah tewas dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan. Ribuan lainnya luka-luka dalam kekerasan terburuk yang melanda wilayah Himalaya sejak 2010.
Banyak dari orang-orang muda yang keluar ke jalan-jalan setelah kematian Wani ini. Mereka melempari pasukan keamanan, protes pun semakin umum terjadi di wilayah berpenduduk mayoritas muslim di India.
Partai Modi, Bharatiya Janata yang merupakan bagian dari pemerintah koalisi, gelisah karena telah gagal mengamankan protes mematikan di Jammu dan Kashmir. Awal pekan ini, Modi mengimbau agar masyarakat meninggalkan kekerasan dan sementara menjanjikan pekerjaan bagi ribuan pemuda pengangguran di negara itu.
Wilayah Kashmir terbagi antara India dan Pakistan. Tapi keduanya mengklaim wilayah tersebut secara penuh.
Kashmir merupakan pusat dari pemberontakan separatis dengan beberapa kelompok pemberontak yang melawan pasukan polisi India. Mereka melakukan itu karena mencari kemerdekaan dari India atau ingin menggabungkan diri ke Pakistan. (yds/hri)











































