DetikNews
Kamis 14 Juli 2016, 16:14 WIB

Hujan Sindiran Saat Boris Johnson yang Kontroversial Jadi Menlu Inggris

Novi Christiastuti - detikNews
Hujan Sindiran Saat Boris Johnson yang Kontroversial Jadi Menlu Inggris Boris Johnson (REUTERS/Toby Melville/File Photo)
London - Penunjukan mantan Wali Kota London, Boris Johnson, sebagai Menteri Luar Negeri Inggris oleh Perdana Menteri Theresa May mengejutkan banyak pihak. Media-media Inggris yang kritis sibuk menyindir Johnson dalam ulasan terbarunya.

Seperti dilansir AFP, Kamis (14/7/2016), sebagian besar surat kabar Inggris lebih tertarik membahas penunjukan Johnson sebagai Menlu Inggris yang baru, menggantikan Philip Hammond. Oleh PM May, Hammond digeser menempati posisi Menteri Keuangan.

"Kejutan dari PM yang baru," sebut media Inggris, Daily Mirror, dalam ulasannya soal pria dengan nama lengkap Alexander Boris de Pfeffel Johnson atau biasa dipanggil 'BoJo' ini.

"Hei dunia... Maaf," tulis Daily Mirror pada halaman depannya, yang menampilkan foto Johnson sedang meluncur dari kabel sambil memegang dua bendera Inggris. Foto itu merupakan momen saat Olimpiade 2012 di London, ketika Johnson masih menjabat Wali Kota London.

Twitter/@hendopolis

"Kredibilitas Inggris tergantung pada seutas benang semalam saat Theresa May sebagai PM baru, memilih Boris Johnson sebagai Menteri Luar Negeri," timpal surat kabar beraliran sayap kiri itu.

Media Inggris lainnya, Daily Telegraph menampilkan foto langkah pertama PM May ke dalam kantornya di 10 Downing Street. Foto itu diambil dari dalam, disertai narasi: "May membawa masuk para Brexiter (pendukung Brexit)."

Baca juga: Jabat PM Inggris, Theresa May Langsung Reshuffle Kabinet

May sendiri ada dalam kubu 'Remain' saat referendum Brexit 23 Juni lalu, sedangkan Johnson yang ditunjuknya menjadi Menlu Inggris gencar mengkampanyekan Brexit atau berada pada kubu 'Leave'. Surat kabar itu juga menampilkan ilustrasi kartun foto para pialang saham melihat layar yang menampilkan kurva menurun dan kemudian melonjak tajam. "Itu bukan poundsterling, itu karier Boris Johnson," demikian komentar gambar tersebut.

Johnson yang merupakan politikus senior pada Partai Konservatif yang berkuasa di Inggris, sempat dijagokan menjadi pengganti David Cameron, PM Inggris sebelumnya. Namun beberapa hari setelah Cameron mengumumkan niatnya mundur, Johnson secara mengejutkan keluar dari pencalonan Ketua Partai Konservatif, yang juga akan menjadi pengganti Cameron. Tapi selang dua minggu kemudian, Johnson kembali.

Lontarkan Komentar Kontroversial untuk Obama, Hillary dan Trump

Keputusan PM May menunjuk Johnson sebagai Menlu disambut kekagetan, rasa heran dan beberapa merasa ngeri. Hal ini merujuk pada riwayat Johnson yang kerap mengkritik pemimpin asing dan berbagai insiden yang dialaminya saat berkunjung ke luar negeri.

Berbagai komentar kontroversial pernah dilontarkan Johnson kepada tokoh-tokoh dunia, mulai dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama, mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton yang kini menjadi capres Partai Demokrat, hingga capres Partai Republik Donald Trump. Johnson juga pernah menyebut warga asing sebagai 'kanibal' dan 'piccaninnies' atau anak kecil berkulit hitam.

Baca juga: David Davis, Politikus Keras Kepala Bekas Tentara Elite Jadi Menteri Brexit

Dalam ulasan media Inggris, The Sun, pada April lalu, Johnson menyebut patung wajah mendiang PM Inggris Winston Churchill sengaja dipindahkan dari Gedung Putih ke Kedubes Inggris, saat Obama menjabat Presiden AS.

"Tidak ada yang tahu pasti apakah presiden (Obama) sendiri terlibat dalam keputusan itu. Beberapa menyebutnya penghinaan untuk Inggris. Beberapa menyebutnya sebagai simbol ketidaksukaan leluhur Presiden yang blasteran Kenya itu kepada Kerajaan Inggris -- yang dibela habis-habisan oleh Chruchill," sebut Johnson saat itu.

Sedangkan soal Hillary, Johnson pernah menyebutnya sebagai perawat sadis dalam pernyataannya di media Inggris, The Telegraph, tahun 2007 lalu. "Dia memiliki rambut pirang dan bibir tebal, dan tatapan mata warna biru yang tajam, seperti perawat sadis di rumah sakit jiwa," ucap Johnson mengomentari penampilan fisik mantan Ibu Negara AS itu.

Baca juga: Pesan David Cameron untuk PM Baru: Jaga Inggris Selalu Dekat Uni Eropa

Kemudian untuk Trump, Johnson melontarkan sindiran usai pengusaha real estate asal New York itu menyebut wilayah-wilayah London berbahaya karena banyak radikalisasi. "Satu-satunya alasan saya tidak akan mengunjungi sebagian wilayah New York ialah risiko nyata bertemu Donald Trump," tuturnya pada Desember tahun lalu.


(nvc/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed