Dibeberkan salah satu pejabat hukum AS yang memahami penyelidikan kepada CNN, Jumat (17/6/2016), Mateen terus berkomunikasi dengan istrinya, Noor Salman, melalui aplikasi chat sejak pukul 04.00 waktu setempat pada Minggu (12/6), atau selang 2 jam setelah dia memulai aksinya.
Menurut pejabat AS ini, Mateen bersembunyi di salah satu bilik toilet untuk bertukar pesan dengan Salman. Dia bertanya apakah sang istri sudah mengecek berita soal aksi penembakan yang didalanginya. Pada satu momen, Salman membalas pesan Mateen dengan mengatakan dia mencintainya. Pejabat AS lainnya menambahkan, Salman bahkan berusaha menghubungi suaminya beberapa kali, saat penembakan berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pejabat AS itu, Salman menghubungi Mateen setelah laporan soal penembakan itu muncul di media dan tampaknya setelah Salman menyadari suaminya bertanggung jawab atas penembakan itu. Mateen sama sekali tidak mengangkat telepon istrinya.
Salman kini dalam penyelidikan otoritas AS atas tuduhan mengetahui rencana teror suaminya, namun tidak melapor ke pihak berwenang. Menurut otoritas setempat, Salman memberikan sejumlah keterangan berbeda kepada penyidik yang menginterogasinya. Dua sumber penegak hukum AS menyebut, jaksa setempat segera menyerahkan bukti-bukti kepada juri federal yang akan menentukan apakah Salman akan dijerat dakwaan pidana atau tidak.
Namun dia memberitahu penyidik bahwa beberapa minggu sebelum serangan, suaminya menghabiskan ribuan dolar AS untuk membeli senjata api yang digunakan dalam penembakan tersebut. Mateen dilaporkan menggunakan senapan serbu semi-otomatis jenis Sig Sauer MCX dan sebuah pistol tangan.
Baca juga: Tahu Rencana Teror di Kelab Gay Orlando, Istri Omar Mateen Terancam Pidana
Mateen dan Salman menikah pada tahun 2011 dan keduanya dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 3 tahun. Pasangan ini tinggal di Fort Pierce, yang berjarak 2 jam berkendara dari lokasi penembakan. Istri Mateen sebelumnya, Sitora Yusufiy, dinikahi tahun 2009 dan pernikahan itu hanya berlangsung beberapa bulan karena Yusufiy mengaku kerap mengalami tindak kekerasan oleh Mateen.
Selain bertukar pesan dengan sang istri, Mateen juga terungkap sempat memposting pesan baru pada akun Facebook-nya. Ketua Komisi Urusan Pemerintah dan Keamanan Dalam Negeri Senat AS, Ron Johnson, mengirim surat pada CEO Facebook Mark Zuckerberg untuk meminta Facebook memberikan data aktivitas akun Facebook milik Mateen.
"Amerika dan Rusia berhenti mengebom ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Kalian membunuh wanita dan anak-anak tak berdosa dengan serangan udara ... sekarang rasakan pembalasan ISIS," tulis Mateen dalam pesan Facebook-nya, seperti disampaikan dalam surat Johnson.
"Dalam beberapa hari, kalian akan melihat serangan dari ISIS di Amerika," tulis Mateen dalam pesan terakhirnya di Facebook.
Baca juga: Korban Penembakan Orlando Dimakamkan, Obama Minta Kongres AS Bertindak
(nvc/ita)










































