Korban yang bernama Rezaul Karim Siddiquee (58) ini, merupakan seorang profesor Bahasa Inggris pada Universitas Rajshahi. Bulan lalu, dia dibacok hingga tewas saat hendak berangkat kerja. Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab dengan menyebut profesor ini pernah menyerukan ateisme, sebagai pemicunya.
Disampaikan polisi senior Bangladesh, seperti dilansir Reuters, Selasa (17/5/2016), polisi Bangaldesh menangkap satu anggota militan Jamaat-ul-Mujahideen, yang dilarang di Bangladesh. Militan ini mengurangi aktivitas teror setelah enam pemimpinnya dihukum gantung tahun 2007 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota militan yang tidak disebut identitasnya ini, ditangkap pada Minggu (15/5) dan mulai disidang. Kepala kepolisian kota Rajshahi, Mohammad Shamsuddin menyebut, tersangka mengaku bersalah dalam persidangan.
"Empat anggota kelompok (militan) setempat terlibat dalam misi pembunuhan ini," sebut Shamsuddin, sembari menyebut pencarian tengah dilakukan terhadap tiga tersangka lainnya.
Bangladesh yang merupakan negara mayoritas muslim dengan penduduk 160 juta jiwa ini, dilanda serangan mematikan dalam beberapa tahun terakhir, yang banyak menargetkan blogger dan akademisi ateis, juga warga minoritas serta pekerja asing.
Baca juga: Militan Jaringan Al-Qaeda Klaim Anggotanya Bunuh Aktivis Gay di Bangladesh
Jaringan Al-Qaeda in the Indian Subcontinent (AQIS) juga mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan mematikan itu, termasuk pembunuhan dua aktivis gay pada bulan lalu. Namun demikian, kepolisian setempat menyebut militan lokal yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.
Puluhan anggota Jamaat-ul-Mujahideen ditangkap otoritas Bangladesh, dan sedikitnya lima militan tewas dalam baku tembak sejak November lalu. Otoritas Bangladesh terus meningkatkan keamanan dan menggencarkan perburuan militan di wilayahnya.
(nvc/trw)











































